Serangan Israel Mematikan di Lebanon Selatan: Ribuan Korban dan Ketegangan Baru

Serangan Israel Mematikan di Lebanon Selatan: Ribuan Korban dan Ketegangan Baru

Plat MerahIsrael kembali serang wilayah Libanon selatan dekat Suriah [titlebase] pada akhir pekan ini, menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang telah berlangsung sejak awal Maret 2026. Serangan udara dan serangan drone yang diluncurkan oleh Angkatan Darat Israel menargetkan beberapa desa di provinsi Nabatiyeh, Tyre, dan daerah perbatasan lainnya, mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka yang signifikan. Pemerintah Israel mengklaim tindakan tersebut merupakan upaya untuk menghancurkan jaringan Hizbullah yang didukung Iran, sementara pihak Lebanon menuding pelanggaran gencatan senjata yang masih berlaku.

Perintah peningkatan operasi datang langsung dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang dalam sebuah pernyataan video di kanal Telegramnya menyatakan, “Saya telah memerintahkan percepatan operasi kami yang lebih besar”. Netanyahu menambahkan bahwa Hizbullah telah melakukan serangan drone dan penggunaan serat optik untuk mengintai wilayah Israel, sehingga menuntut respons militer yang lebih keras. Pada saat yang sama, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata di Timur Tengah sedang berlangsung, namun serangan di Lebanon tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat bahwa sejak serangan pada 2 Maret, total korban tewas telah mencapai 3.151 jiwa, dengan lebih dari 9.571 orang luka-luka. Pada 24 Mei, dua warga termasuk seorang paramedis tewas di kota Yahmar al-Shakif, sementara sepuluh lainnya mengalami luka. Pada 20 Mei, serangan di kota Deir Qanun al-Nahr menewaskan sepuluh orang, termasuk tiga anak perempuan dan tiga wanita. Sementara itu, laporan dari National News Agency (NNA) menyebutkan bahwa pada 20 Mei serangan di Tyre menewaskan 29 orang, termasuk seorang warga Suriah, dan melukai puluhan lainnya.

  • Korban tewas: 3.151 jiwa
  • Korban luka: 9.571 orang
  • Tenaga medis tewas: 3 paramedis
  • Rumah sakit rusak: 16 fasilitas

Hizbullah tidak tinggal diam. Ketua organisasi Naim Qassem menegaskan bahwa kelompoknya akan tetap melawan sampai ada kesepakatan gencatan senjata yang melibatkan semua pihak, termasuk Amerika Serikat dan Iran. Pada 23-24 Mei, Hizbullah meluncurkan roket balistik ke posisi militer Israel di wilayah perbatasan, sekaligus menembakkan artileri ke kendaraan militer Israel yang berada di dekat Sungai Deir Siryan. Konflik bersenjata ini juga meluas ke wilayah timur Lebanon, di mana lebih dari 30 lokasi menjadi sasaran serangan udara Israel.

Situasi kemanusiaan semakin memburuk. Lebih dari seratus tenaga kesehatan telah tewas sejak awal konflik, 147 ambulans diserang, dan 45 pusat perawatan kesehatan terpaksa ditutup. Penduduk sipil, terutama perempuan dan anak-anak, terpaksa mengungsi ke daerah yang lebih aman, namun evakuasi sering terhambat oleh serangan berulang. PBB dan organisasi bantuan internasional menyerukan gencatan senjata yang lebih ketat, namun hingga kini belum ada kesepakatan yang dapat menghentikan aksi militer di kedua sisi.

Israel kembali serang wilayah Libanon selatan dekat Suriah [titlebase] bukan hanya mencerminkan strategi militer Israel, melainkan juga menambah tekanan diplomatik pada proses perdamaian yang tengah digali oleh Amerika Serikat dan Iran. Jika pertempuran berlanjut, risiko meluasnya konflik ke wilayah Suriah dan Yordania akan semakin tinggi, mengancam stabilitas regional secara keseluruhan. Pemerintah Lebanon terus menekankan pentingnya kontrol senjata yang eksklusif berada di tangan pasukan negara, sementara komunitas internasional menunggu langkah konkret untuk menghentikan siklus kekerasan yang terus berulang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup