Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Ukraina, Kyiv Diguncang Rudal-Drone Usai Janji Pembalasan Putin

Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Ukraina, Kyiv Diguncang Rudal-Drone Usai Janji Pembalasan Putin

Plat MerahRusia luncurkan serangan besar ke Ukraina, Kyiv diguncang rudal-drone usai janji pembalasan Putin [titlebase] menandai eskalasi paling signifikan sejak invasi 2022, dengan ribuan drone dan rudal hipersonik menghantam pusat pemerintahan serta infrastruktur militer di ibu kota Ukraina.

Pemerintah Rusia mengumumkan melalui Kementerian Luar Negeri bahwa serangan ini ditargetkan pada “pusat pengambilan keputusan” di Kyiv, sekaligus menyerukan semua warga negara asing dan personel diplomatik untuk segera meninggalkan kota. Dalam pernyataan resmi, Rusia menegaskan penggunaan rudal hipersonik Oreshnik yang dapat melaju sepuluh kali kecepatan suara dan mampu mengangkut hulu ledak konvensional maupun nuklir. Menurut laporan militer, lebih dari 600 drone dan 90 rudal diluncurkan dalam gelombang serangan yang berlangsung selama beberapa jam.

Serangan tersebut menewaskan empat warga sipil dan melukai lebih dari 50 orang, sementara bangunan apartemen, rumah sakit, dan fasilitas pemerintahan mengalami kerusakan parah. Wali kota Kyiv, Vitali Klitschko, menggambarkan situasi sebagai “sangat mengerikan” dan menegaskan bahwa layanan darurat bekerja keras untuk mengevakuasi korban. Pemerintah Ukraina menolak menyebut ancaman Rusia sebagai retorika belaka, melainkan menegaskan bahwa serangan ini merupakan balasan atas tuduhan Moskow bahwa Kyiv menembakkan serangan ke asrama mahasiswa di Starobilsk, yang menewaskan 18 orang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam tindakan Moskow sebagai “taktik menakut-nakuti” dan menyerukan dunia untuk meningkatkan bantuan pertahanan udara. Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menambahkan bahwa rudal Oreshnik yang digunakan kali ini membawa hulu ledak tiruan, namun tetap menimbulkan dampak destruktif yang signifikan. Sementara itu, Uni Eropa, Prancis, dan Jerman mengutuk penggunaan senjata hipersonik, menilai langkah tersebut melanggar norma internasional dan meningkatkan risiko konflik lebih luas.

Di tingkat internasional, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menghubungi rekan-rekannya di Amerika Serikat, termasuk Senator Marco Rubio, untuk menuntut evakuasi staf kedutaan dari Kyiv. Amerika Serikat dan sekutu NATO menegaskan kesiapan mereka untuk memperkuat sistem pertahanan udara Ukraina, meskipun menolak memberikan persetujuan penggunaan senjata nuklir. Peringatan keras terhadap warga asing yang masih berada di Kyiv menambah tekanan diplomatik, sementara organisasi kemanusiaan berusaha menyalurkan bantuan medis dan logistik ke daerah terdampak.

Analisis para pakar militer menunjukkan bahwa penggunaan Oreshnik menandakan perubahan taktik Rusia, beralih dari serangan konvensional ke senjata berkecepatan tinggi yang sulit diintersep. Hal ini memaksa Ukraina untuk mengandalkan sistem pertahanan berbasis laser dan interceptor baru, serta mempercepat permintaan bantuan teknologi pertahanan dari sekutu Barat. Di sisi lain, Rusia mengklaim bahwa serangan ini merupakan respons proporsional terhadap serangan Ukraina di wilayah Luhansk yang menewaskan 21 orang.

Rusia serangan Kyiv memperlihatkan dinamika konflik yang semakin kompleks, dengan ancaman senjata hipersonik menambah ketegangan geopolitik. Meskipun kedua belah pihak terus mengadakan perundingan damai yang difasilitasi oleh Amerika Serikat, hasilnya masih belum terlihat. Sementara itu, warga sipil Kyiv hidup dalam ketidakpastian, menanti perintah evakuasi lebih lanjut dan berharap agar serangan ini tidak berlanjut menjadi konflik skala lebih luas.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup