Bursa Efek Sepekan: IHSG Turun 8,3 Persen, Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi?

Bursa Efek Sepekan: IHSG Turun 8,3 Persen, Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi?

Plat Merah – Bursa Efek sepekan: IHSG turun 8,3 persen. Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur pada 18-22 Mei 2026. Sejumlah saham pun alami koreksi tajam hingga masuk jajaran top losers sepekan atau alami penurunan terbesar. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (23/5/2026), IHSG merosot 8,35% ke posisi 6.162,04 dari pekan lalu di 6.723,32. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI terpangkas 10,07% menjadi Rp 10.635 triliun dari Rp 11.825 triliun pada pekan lalu. Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian pekan ini naik 15,68% menjadi Rp 21,77 triliun dari Rp 18,82 triliun pada pekan lalu. Kenaikan ini juga diikuti rata-rata volume transaksi harian sebesar 2,53% menjadi 36,67 miliar saham dari pekan lalu 35,76 miliar saham.

Investor asing masih melakukan aksi jual saham pada pekan ini. Namun, aksi jual itu tak sebesar pekan lalu. Investor asing melepas saham Rp 807,68 miliar dari pekan lalu Rp 3,21 triliun. Adapun 10 saham catat koreksi besar atau top losers di tengah penurunan IHSG. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memimpin koreksi pada pekan ini. Saham TPIA terpangkas 53,49% menjadi Rp 2.000 per saham dari pekan lalu Rp 4.300 per saham. Selanjutnya saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) melemah 50,20% menjadi Rp 630 per saham dari pekan lalu Rp 1.265 per saham. Disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Saham DSSA turun 47,34% menjadi Rp 545 per saham dari pekan lalu Rp 1.035 per saham. Berikut 10 saham top losers sepekan dikutip dari data BEI:

1.PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)

2. PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)

3. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)

4. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA)

5. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

6. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

7. PT Adhi Karya Tbk (ADHI)

8. PT Adhi Karya Tbk (ADHI)

9. PT Ciputra Surya Tbk (CSRA)

10. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

FTSE Russell berpotensi mengikuti kebijakan MSCI dalam mengurangi bobot investasi di Indonesia. Kondisi itu dinilai dapat menambah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dalam beberapa waktu terakhir masih berada dalam tren pelemahan. Menurut Myrdal, pasar saat ini tengah mencermati berbagai faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan modal asing, termasuk sikap lembaga indeks global terhadap pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Global Market Economist Myrdal Gunarto menilai potensi langkah FTSE Russell yang dapat mengikuti kebijakan MSCI dalam mengurangi bobot investasi di Indonesia berpotensi menjadi sentimen negatif baru bagi pasar saham domestik. Kondisi itu dinilai dapat menambah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dalam beberapa waktu terakhir masih berada dalam tren pelemahan. Menurut Myrdal, pasar saat ini tengah mencermati berbagai faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan modal asing, termasuk sikap lembaga indeks global terhadap pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup