Krisis Gas Global: Dari SPBU Nashville hingga Infrastruktur Afrika Selatan, Dampaknya Terasa di Berbagai Penjuru
Plat Merah – Gas menjadi pusat perhatian dunia dalam beberapa pekan terakhir, bukan hanya sebagai komoditas energi, tetapi juga sebagai elemen yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, keamanan, dan ekonomi. Mulai dari serangan brutal di stasiun pengisian bahan bakar di Nashville, Amerika Serikat, hingga proyek pipa gas raksasa di Afrika Selatan yang membengkak biayanya, serta krisis energi di Ukraina yang mengancam pasokan gas untuk musim dingin, semua menunjukkan betapa vitalnya peran gas dalam kehidupan modern.
Di Nashville, Tennessee, seorang veteran Angkatan Laut berusia 84 tahun, Dallas “Papa” Mathis, menjadi korban kekerasan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar Shell di Shelby Avenue. Peristiwa terjadi pada 24 Juni sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Mathis sedang bersama seorang teman keluarga berusia 40 tahun ketika terjadi pertengkaran antara temannya dan orang-orang di kendaraan lain. Pelaku kemudian beralih ke Mathis, memukulinya berulang kali hingga menyebabkan beberapa patah tulang di wajahnya. Mathis harus menjalani operasi rekonstruksi. Keluarganya, yang merawatnya di rumah, menerima ribuan kartu dan hadiah dari berbagai penjuru negeri sebagai bentuk dukungan. Polisi masih memburu pelaku.
Sementara itu, di Afrika Selatan, proyek multi-product pipeline (MPP) milik Transnet yang bertujuan mengangkut gas dan produk minyak dari Durban ke Gauteng mengalami pembengkakan biaya hingga R28,2 miliar (sekitar Rp25 triliun). Proyek yang seharusnya selesai pada 2010 ini kini diperkirakan baru rampung pada November 2027. Regulator energi nasional, Nersa, mengkaji ulang tarif pipa untuk melindungi konsumen dari kenaikan tarif yang tajam. Proyek ini sangat strategis karena memasok hingga 90% kebutuhan bahan bakar di Gauteng, pusat ekonomi Afrika Selatan.
Di Ukraina, situasi energi semakin kritis. Negara ini hanya berhasil mengumpulkan sekitar 7 miliar meter kubik (bcm) gas bumi dari target minimal 13,2 bcm untuk musim dingin. Cadangan batubara termal hanya 2,2 juta ton, cukup untuk musim panas dan gugur. Kenaikan harga energi di Eropa dan permintaan gas yang tinggi di negara-negara Uni Eropa menghambat upaya Ukraina untuk mengisi penyimpanan. Kapasitas sistem kelistrikan juga rendah, hanya 11-12 GW dari kebutuhan 18-19 GW. Bahkan di musim panas, Ukraina mengalami defisit listrik 1-2 GW akibat gelombang panas.
Di Berkley, Michigan, kebocoran gas memicu evakuasi warga di sekitar Dorothea Street. Pihak berwenang mengeluarkan peringatan darurat dan melarang penggunaan kembang api di area tersebut. Tim darurat berhasil menangani kebocoran dan status aman diumumkan setelah pukul 23.00.
Di sisi lain, gas juga menjadi penyelamat bagi pasien kanker payudara. Kim Fleming, seorang perawat dari Nevada, Missouri, harus menempuh perjalanan dua jam pulang-pergi ke Joplin untuk menjalani 30 sesi perawatan. Biaya perjalanan yang tinggi menjadi beban tambahan. Melalui Breast Cancer Foundation of the Ozarks, ia mendapatkan kartu bahan bakar dari Rapid Roberts yang membantu meringankan biaya perjalanan. Inisiatif ini menunjukkan bahwa akses terhadap gas yang terjangkau dapat memberikan dampak sosial yang besar.
Kesimpulannya, gas memiliki peran ganda: sebagai sumber energi yang mendorong perekonomian dan sebagai komoditas yang dapat memicu konflik atau krisis. Dari kekerasan di pompa bensin hingga proyek infrastruktur yang tertunda, serta krisis energi yang mengancam, kita melihat bahwa pengelolaan gas yang bijak sangat penting. Di tengah tantangan global, solidaritas dan inovasi seperti program bantuan bahan bakar dapat menjadi solusi untuk meringankan beban masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.





