Petani Torjun Tanam 40 Ribu Batang Tembakau, Optimistis Panen Berkualitas di Musim Kemarau

Petani Torjun Tanam 40 Ribu Batang Tembakau, Optimistis Panen Berkualitas di Musim Kemarau

Latar Belakang Pertanian Tembakau di Sampang

Plat Merah – Kabupaten Sampang, Madura, dikenal sebagai salah satu pusat penghasil tembakau terbesar di Jawa Timur. Sejak abad ke-19, pertanian tembakau menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat setempat. Data BPS Jatim mencatat bahwa luasan areal tembakau di Sampang mencapai 15.000 hektare pada 2025, menghasilkan sekitar 40.000 ton kering per musim panen. Kualitas daun tembakau Sampang sangat diminati produsen rokok nasional karena kadar nikotin yang seimbang dan aroma khas hasil pengolahan tradisional.

Strategi Petani Menghadapi Musim Kemarau

Moh. Hijab, petani tembakau di Desa Pangongsean, Kecamatan Torjun, menanam 40.000 batang tembakau di lahan 2 hektare. Ia menekankan pentingnya manajemen cuaca untuk meningkatkan kualitas daun tembakau. “Musim kemarau ideal untuk pertumbuhan tembakau. Kelembapan rendah mencegah pembusukan daun dan memperkuat serat tanaman,” jelasnya. Ia memantau kondisi tanaman setiap dua hari menggunakan drone agronomi yang dipasangi kamera multispektrum untuk mendeteksi kebutuhan air dan nutrisi.

Analisis Biaya Produksi dan Tantangan

Dengan biaya produksi mencapai Rp15 juta per hektare, petani menghadapi risiko besar. Berikut rincian biaya utama:

KomponenRupiah
Bibit tembakau1.500.000
Pupuk organik2.200.000
Pestisida1.800.000
Upah tenaga kerja4.500.000
Pengairan5.000.000

“Kami butuh harga jual minimal Rp22.000 per kg untuk menutup biaya. Tapi saat ini harga fluktuatif, tergantung permintaan dari perusahaan rokok,” tambah Hijab. Pemerintah Kabupaten Sampang telah memprediksi potensi inflasi harga bahan baku pertanian hingga 8% di 2026, yang akan menambah beban petani.

Dampak Iklim dan Teknologi

  1. Kemarau panjang berisiko menyebabkan kekeringan di lahan marginal
  2. Pemanfaatan sumur bor modern mengurangi ketergantungan pada sumber air hujan
  3. Penggunaan aplikasi cuaca berbasis AI membantu prediksi hujan

Kronologi Proses Budidaya

1. Penyemaian benih di greenhouse (Februari-Maret)
2. Transplantasi bibit ke lahan (April)
3. Pemupukan organik (Mei)
4. Pengendalian hama (Juni-Juli)
5. Pemanenan tahap pertama (September)
6. Pengeringan dan kemasan (Oktober)

Implikasi untuk Ekonomi Daerah

Produksi tembakau berkontribusi 27% terhadap PDRB pertanian Kabupaten Sampang. Namun, fluktuasi harga jual menyebabkan 40% petani mengalami kerugian rata-rata Rp3 juta per musim. Perusahaan seperti PT HM Sampoerna dan Gudang Garam terus memperluas kerja sama langsung dengan petani untuk menstabilkan harga beli. Pemerintah juga sedang mengkaji insentif pajak untuk pengusaha yang membeli langsung dari petani.

Dengan optimisme yang masih tinggi, petani Torjun berharap musim kemarau ini menjadi titik balik untuk meningkatkan kualitas produk. Mereka percaya bahwa kombinasi teknologi modern dan tradisi pertanian lokal bisa menghasilkan daun tembakau yang unggul, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem lokal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup