Kepala Sekolah di Nepal Evakuasi 900 Murid Sebelum Banjir Bandang Melanda
PlatMerah.com, Nuwakot, Nepal – Kepala Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli, Rajendra Dawadi, berhasil menyelamatkan 900 murid dari banjir bandang yang melanda Nepal dengan evakuasi cepat tepat beberapa menit sebelum bencana terjadi. Keputusan cepat ini membuat seluruh murid dan staf sekolah selamat dari ancaman maut.
Pada 28 Agustus 2026, Dawadi menerima empat panggilan telepon peringatan bencana sekitar pukul 09.10 waktu setempat. Informasi tersebut berasal dari berbagai sumber yang mengabarkan adanya bahaya banjir bandang yang segera melanda kawasan tersebut. Tanpa menunggu lama, Dawadi segera memerintahkan murid-murid untuk berlari ke tempat yang lebih tinggi dan memerintahkan bus sekolah untuk berbalik arah agar segera meninggalkan area terdampak.
Fakta Utama Evakuasi dan Banjir Bandang
- Banjir bandang di Nepal pada akhir Agustus 2026 menewaskan sedikitnya 794 orang.
- Kepala sekolah Rajendra Dawadi bertindak cepat setelah menerima peringatan bencana melalui empat panggilan telepon.
- Evakuasi dilakukan hanya sekitar 10 menit sebelum banjir menerjang sekolah.
- 900 murid berhasil diselamatkan tanpa korban jiwa.
Proses Evakuasi yang Cepat dan Tepat
Dawadi mengungkapkan bahwa peringatan dari beberapa pihak dalam hitungan menit membantu menilai risiko yang akan terjadi. Salah satu peringatan datang dari orang tua murid yang datang menjemput putrinya karena khawatir dengan situasi banjir.
Dengan informasi tersebut, Dawadi tidak membuang waktu dan langsung menginstruksikan murid untuk bergerak ke lokasi yang lebih aman. Bus sekolah yang sedang mengangkut murid juga diarahkan untuk berbalik dan meninggalkan daerah rawan banjir.
Konteks dan Dampak Banjir di Nepal
Banjir bandang ini merupakan salah satu bencana alam terparah yang melanda Nepal pada tahun 2026. Ribuan orang terdampak, dan ratusan korban jiwa telah dilaporkan. Kejadian ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan respons cepat saat menghadapi bencana alam.
Keberhasilan evakuasi di Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli menjadi contoh nyata bagaimana tindakan cepat dan informasi yang akurat dapat menyelamatkan banyak nyawa.
Peristiwa ini juga mengingatkan pentingnya sistem peringatan dini yang efektif dan koordinasi antara masyarakat, sekolah, dan pihak berwenang dalam menghadapi bencana.
Rajendra Dawadi menuturkan, “Jika evakuasi dilakukan terlambat 10 menit saja, kami tidak akan dapat berbicara dengan Anda hari ini.” Pernyataan ini menegaskan betapa kritisnya waktu dalam situasi darurat banjir.
Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi wilayah rawan bencana lainnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi risiko demi keselamatan warga, khususnya anak-anak sekolah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













