Kisah Kenneth Trevi: Penyanyi Disleksia yang Kini Jadi Penulis Lagu dan Recording Engineer
Plat Merah – Kenneth Trevi, seorang penyanyi yang tumbuh dengan disleksia, kini berhasil mengembangkan kariernya sebagai penulis lagu dan recording engineer. Perjuangannya melawan keterbatasan sejak kecil membawanya pada pencapaian luar biasa, termasuk lagu berjudul ‘Aku Berbeda Aku Bisa‘ yang videonya telah ditonton lebih dari 9.000 kali di YouTube hanya dalam lima hari setelah dirilis.
Lagu tersebut bukan sekadar karya musik, melainkan cerminan perjalanan hidup Kenneth yang penuh perjuangan dan keberanian menerima diri apa adanya. Awalnya, Kenneth mengaku tidak pernah membayangkan bisa menulis lagu sendiri karena kesulitan menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Namun, berkat pendampingan produser musik Rulli Aryanto, ia perlahan belajar menyusun lirik, menentukan tema, hingga akhirnya mampu menghasilkan karya yang lahir dari pengalamannya sendiri.
Proses belajar itu tidak instan. Kenneth harus melewati latihan dan pengulangan panjang. Ia belajar memahami setiap tahap produksi musik, mulai dari mengamati proses rekaman, membantu pekerjaan sederhana di studio, hingga mempelajari perangkat lunak audio secara bertahap. Dari sana, ia dipercaya terlibat sebagai recording engineer, sebuah peran yang membuatnya berada di balik layar proses produksi musik.
Bagi Kenneth, tantangan terbesar bukanlah teknologi studio, melainkan memahami instruksi teknis yang kompleks dan membangun komunikasi efektif dengan banyak orang. Untuk mengatasinya, ia mengembangkan metode belajar sederhana: ‘Lihat dulu, ikut dulu, coba dulu. Kalau salah tidak apa-apa, lalu ulang lagi.’ Filosofi tersebut membantunya berkembang perlahan namun pasti.
Melalui pendampingan Rulli Aryanto, Kenneth belajar bahwa hasil bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai dan terus melangkah. Pesan itu dituangkan dalam lagu ‘Aku Berbeda Aku Bisa’, yang sangat personal dan lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Kenneth menekankan, ‘Jangan berhenti pada kalimat Aku Berbeda. Lanjutkan sampai Aku Bisa.’
Pesan tersebut semakin kuat dengan keterlibatan 15 anak down syndrome dalam video musik lagu itu. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap visual, melainkan bagian penting dari cerita yang ingin disampaikan. Kenneth mengaku sangat tersentuh melihat semangat dan ketulusan mereka selama proses produksi. Tidak hanya tampil dalam video, belasan anak tersebut juga ikut dalam proses rekaman lagu yang tracking vokalnya ditangani Kenneth sendiri.
Ibunda Kenneth, Yuly Twins, mengaku bangga melihat perkembangan putranya. Menurutnya, pencapaian Kenneth adalah buah dari proses panjang penuh perjuangan, air mata, dan keberanian untuk terus mencoba. Inspirasi lagu ‘Aku Berbeda Aku Bisa’ lahir dari pengalaman mendampingi Kenneth tumbuh di tengah lingkungan anak-anak tipikal. Yuly berharap masyarakat mulai melihat anak-anak berkebutuhan khusus dari kemampuan yang mereka miliki, bukan dari keterbatasannya.
Kisah Kenneth Trevi menjadi bukti bahwa dukungan, kesempatan, dan keyakinan dapat membuka jalan bagi siapa saja untuk berkembang. Dari seorang anak dengan disleksia yang sempat kesulitan menulis, Kenneth kini tumbuh menjadi penyanyi, penulis lagu, sekaligus recording engineer. Perjalanannya mengirimkan pesan sederhana namun kuat: berbeda bukan alasan untuk berhenti, melainkan awal untuk membuktikan bahwa setiap orang bisa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









