Hari Batik Nasional, KBRI Ottawa Pamerkan 12 Kain Pusaka Nusantara di Kanada
PlatMerah.com, Ottawa – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ottawa menggelar acara bertajuk Batik From Indonesia to the World pada 21 September 2026, sebagai bagian dari peringatan Hari Batik Nasional dan 17 tahun pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Acara ini menghadirkan peragaan busana batik serta pameran 12 kain pusaka nusantara yang dipersembahkan di Aula Caraka Nusantara KBRI Ottawa, Kanada.
Peragaan Busana dan Pameran Kain Pusaka Nusantara
Acara yang dihadiri sekitar 150 tamu, termasuk anggota Parlemen Kanada, korps diplomatik ASEAN dan negara sahabat, pengusaha, serta pemangku kepentingan di Kanada, menampilkan catwalk batik yang memukau. Aula KBRI disulap menjadi galeri sekaligus runway batik, disertai alunan musik gamelan Jawa dan penampilan angklung dari Indonesia Canadian Angklung Society (ICAS).
Pameran menampilkan 12 kain pusaka nusantara yang dibagi dalam tiga babak, memperkenalkan beragam tradisi batik dari berbagai daerah di Indonesia:
- Babak Pertama: Kain dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta, termasuk motif Udan Liris, Parang Rusak Klitik, Semen bermotif SawatGurda, Sidomukti, dan Peksi Kurung yang memiliki aturan penggunaannya sejak abad ke-18.
- Babak Kedua: Batik dari Banyumas seperti Jahean, Semen Sawat polikrom, dan Burung Hong, yang menunjukkan pengaruh Eropa dan Tionghoa.
- Babak Ketiga: Batik pesisir dan daerah lain seperti Mega Mendung dari Cirebon, Lunglungan dari Lasem, Tar-poteh Kembang Cengkeh dari Gentongan Tanjung Bumi, Madura, serta batik bercorak Asmat dari Papua.
Setelah itu, peragaan busana berlanjut dengan penampilan kelompok anak-anak, remaja, dan perempuan yang mengenakan batik dalam berbagai gaya busana keseharian, menegaskan bahwa batik adalah warisan budaya yang hidup dan diteruskan dari generasi ke generasi.
Makna Batik dalam Diplomasi dan Kehidupan Sehari-hari
Duta Besar RI untuk Kanada, Muhsin Syihab, menyatakan bahwa batik adalah simbol Indonesia yang tidak hanya dimaknai sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Batik digunakan dalam berbagai momen kehidupan, mulai kelahiran, pernikahan, hingga aktivitas sehari-hari di sekolah, kantor, dan pemerintahan.
Lebih jauh, batik juga menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 200 ribu orang Indonesia, khususnya perempuan yang mengelola bengkel kecil dan usaha keluarga. Muhsin menekankan peran batik sebagai alat diplomasi budaya, dengan contoh pemakaian batik oleh Perdana Menteri Kanada Jean Chrétien pada KTT APEC 1994 dan Perdana Menteri Justin Trudeau pada KTT ASEAN 2023.
“Setiap kali, batik menyampaikan sesuatu yang tak mampu diungkapkan komunike mana pun bahwa persahabatan dapat dikenakan, tidak hanya dituliskan,” ujarnya.
Penguatan Hubungan Indonesia-Kanada Melalui Budaya
Sameer Zuberi, anggota Parlemen Kanada dan Ketua Bersama Kelompok Persahabatan Parlemen Kanada-Indonesia, menilai acara peringatan Hari Batik Nasional di KBRI Ottawa sangat penting untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Kanada. Ia menilai batik sebagai pintu indah untuk memahami kekayaan budaya Indonesia dan memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Zuberi juga mengaitkan perayaan budaya ini dengan kemajuan hubungan ekonomi melalui Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada (ICA-CEPA) yang ditandatangani pada 24 September 2025 di Ottawa.
Acara Budaya sebagai Pengingat Warisan dan Diplomasi
Acara di KBRI Ottawa ditutup dengan peragaan busana bertema The Ageless Runway Batik Across Generations, yang menampilkan batik dari berbagai generasi dan daerah, serta tari kontemporer yang dibawakan oleh keluarga besar KBRI dan diaspora Indonesia. Perayaan ini mengingatkan bahwa warisan budaya akan bermakna ketika dikenakan, dipahami, dan diteruskan, dari Indonesia untuk dunia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











