Álex Baena: Dari Keraguan Menjadi Pilar Tak Terduga Spanyol di Piala Dunia 2026

Álex Baena: Dari Keraguan Menjadi Pilar Tak Terduga Spanyol di Piala Dunia 2026

Plat Merah – Álex Baena, nama yang mungkin sempat diragukan oleh banyak pengamat, kini menjadi salah satu cerita paling menarik di Piala Dunia 2026. Pemain berusia 24 tahun asal Roquetas de Mar ini berhasil membungkam kritik dengan penampilan gemilangnya bersama Timnas Spanyol, membawa La Roja melaju hingga babak perempat final. Perjalanan Álex Baena dari masa kecil yang penuh pengorbanan hingga menjadi andalan di panggung terbesar sepak bola dunia adalah bukti ketangguhan mental dan bakat luar biasa.

Keputusan Luis de la Fuente untuk memasukkan Álex Baena dalam skuad final sempat menuai kontroversi. Pasalnya, performanya di Atlético Madrid tidak konsisten setelah kepindahan senilai 45 juta euro dari Villarreal. Namun, pelatih yang mengenalnya sejak tim junior itu tetap percaya. “Ada pemain yang lebih cocok untuk tim nasional,” ujar De la Fuente membela pilihannya. Keyakinan itu terbukti tepat ketika Álex Baena mencetak gol kemenangan melawan Uruguay dan menjadi kreator utama saat melawan Austria, termasuk assist untuk gol Pedro Porro.

Di babak 16 besar melawan Portugal, Álex Baena nyaris mencetak gol spektakuler, namun aksi heroik kiper Portugal, Diogo Costa, menggagalkan peluangnya. Costa melakukan penyelamatan ganda yang luar biasa, pertama menepis tembakan Lamine Yamal lalu dengan cepat menghalau rebound dari Álex Baena. Momen itu menjadi sorotan, tetapi tidak mengurangi pengaruh positif Álex Baena dalam permainan Spanyol.

Kisah hidup Álex Baena penuh dengan lika-liku. Pada usia 11 tahun, ia harus meninggalkan keluarganya di Almería untuk bergabung dengan akademi Villarreal, sebuah keputusan yang didorong oleh ibunya, Sara Rodríguez. “Tidak apa-apa, Nak. Cobalah, jangan menyesal karena tidak mencoba,” kenangnya. Namun, perpisahan itu menyisakan luka. “Saya kehilangan hampir seluruh masa kecil dan remaja karena perjalanan jauh,” akunya dalam sebuah wawancara.

Beban mental semakin berat saat ia harus beradaptasi dengan Atlético Madrid dan menghadapi cedera usus buntu. Puncaknya adalah insiden dengan Fede Valverde pada 2023, yang membuatnya nyaris meninggalkan sepak bola. “Saya menulis pesan kepada ibu dan psikolog saya bahwa saya ingin berhenti,” ungkapnya. Dukungan mereka, terutama dari sang ibu yang melarangnya pulang saat ia menangis menelepon, membuatnya bertahan.

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental membuat Álex Baena bekerja sama dengan psikolog selama enam tahun terakhir. “Sepak bola bukan hanya fisik, mental juga sangat penting,” tegasnya. Kini, ia menjadi contoh bagaimana mengatasi tekanan dan keraguan. Di lapangan, ia menunjukkan kreativitas, visi, dan keberanian yang menjadi senjata utama Spanyol.

Pertandingan melawan Portugal menjadi ujian nyata. Meskipun gagal mencetak gol, pergerakan dan umpan-umpan berbahaya Álex Baena terus merepotkan pertahanan lawan. Ia tidak hanya menjadi pemain kejutan, tetapi juga simbol kebangkitan mental seorang atlet. “Saya tidak akan menyerah,” katanya, menegaskan tekadnya untuk terus maju.

Kisah Álex Baena adalah pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu linear. Dari anak kecil yang merindukan keluarga, pemain yang hampir menyerah, hingga menjadi salah satu pemain kunci Spanyol di Piala Dunia. Dengan dukungan ibunya dan kerja keras, ia membuktikan bahwa mimpi bisa terwujud. Spanyol kini menatap perempat final dengan optimisme, dan Álex Baena menjadi salah satu alasan utamanya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup