Akanji Pimpin Swiss Gigit Jari: Wasit Dituduh Berat Sebelah Saat Argentina Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026

Akanji Pimpin Swiss Gigit Jari: Wasit Dituduh Berat Sebelah Saat Argentina Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026

Plat Merah – Manuel Akanji menjadi pusat perhatian setelah kekalahan dramatis Swiss dari Argentina di perempat final Piala Dunia 2026. Bek tengah Inter Milan itu tidak hanya tampil gemilang sepanjang turnamen, tetapi juga melontarkan kritik pedas terhadap kepemimpinan wasit João Pinheiro yang dianggapnya berat sebelah. Kekalahan 1-3 di Kansas City menyisakan luka mendalam bagi skuad asuhan Murat Yakin, terutama setelah kartu merah kontroversial Breel Embolo menghancurkan harapan mereka.

Pertandingan berjalan sengit sejak awal. Swiss unggul lebih dulu melalui gol Dan Ndoye pada menit ke-67, membalas gol Alexis Mac Allister. Namun, lima menit berselang, Embolo yang sudah mengantongi kartu kuning jatuh di kotak penalti setelah bersenggolan dengan Leandro Paredes. Wasit Pinheiro awalnya memberi kartu kuning kepada Paredes, tetapi setelah meninjau VAR, ia mengubah keputusan: Embolo dianggap melakukan simulasi dan mendapat kartu kuning kedua, yang berujung kartu merah. Swiss pun bermain dengan 10 orang sejak menit ke-72. Argentina akhirnya menang 3-1 setelah gol Julian Alvarez dan Lautaro Martinez di babak perpanjangan waktu.

Keputusan tersebut memicu kemarahan publik Swiss. Manuel Akanji, yang tampil sebagai pemimpin pertahanan dan playmaker sepanjang turnamen, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Setiap pelanggaran kecil ditiup untuk melawan kami. Setiap jatuh dan pelanggaran pemain Argentina tidak dihukum. Saya biasanya tidak mengomentari wasit, tapi saya belum pernah mengalami pertandingan yang berat sebelah seperti hari ini,” ujar Akanji kepada media setelah laga. Ia menambahkan, “Bahkan setelah keunggulan 2-1, Argentina hampir tidak menciptakan peluang. Kami adalah tim yang lebih baik, tapi ketika wasit melawan Anda, segalanya menjadi sulit.”

Akanji juga menyindir komentar legenda Jerman, Jens Lehmann, yang sebelumnya menyebut Swiss hanya datang untuk bertukar jersey. “Salam hangat untuk Jens Lehmann yang bilang kami hanya datang untuk tukar jersey. Hari ini semua orang melihat apa yang bisa kami lakukan, bahkan dengan 10 pemain,” kata Akanji dengan nada tajam. “Saya pikir sangat tidak sopan membuat pernyataan seperti itu setelah kami bertahun-tahun menunjukkan performa bagus, apalagi melihat posisi Jerman saat ini.”

Meski kecewa, Akanji tetap bangga dengan perjuangan timnya. “Kami bisa bangga. Mungkin ada yang menganggap kami tim kecil, tapi saya yakin lawan tidak akan meremehkan kami lagi,” ujarnya. Penampilan Akanji sendiri sepanjang Piala Dunia 2026 mendapat pujian tinggi. Bersama Nico Elvedi yang tampil luar biasa di lini belakang, dan Dan Ndoye yang menjadi ancaman konstan di sayap, Swiss menunjukkan pertahanan solid dan semangat juang tinggi. Namun, kartu merah Embolo menjadi titik balik yang fatal.

Analis sepak bola internasional terbelah soal keputusan wasit. Christina Unkel, mantan wasit FIFA, menilai prosedur VAR sudah benar, namun menekankan bahwa interpretasi jatuhan Embolo bersifat subjektif. Beberapa pihak menyebut insiden ini sebagai “kartu merah terbodoh” Piala Dunia 2026, sementara yang lain membela keputusan wasit. Yang jelas, Swiss pulang dengan kepala tegak, dan Akanji menjadi simbol perlawanan mereka.

Kekalahan ini mengakhiri perjalanan impresif Swiss yang sebelumnya menaklukkan Kolombia dan Kanada. Fokus kini beralih ke masa depan: dengan Akanji, Elvedi, dan Ndoye sebagai pilar, Swiss diprediksi akan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di turnamen mendatang. Namun, untuk saat ini, kekecewaan masih menyelimuti. “Kami bermain dengan hati, tapi kadang sepak bola tidak adil,” pungkas Akanji.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup