Drama Piala Dunia 2026: Rekor Negatif Inggris vs Argentina, Kejatuhan Belgia, dan Tuduhan Rasisme
Plat Merah – Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat menyajikan berbagai peristiwa mengejutkan yang terjadi di luar dugaan banyak pengamat. Mulai dari rekor negatif dalam laga semifinal antara Inggris dan Argentina, kegagalan dramatis ‘generasi emas’ Belgia, hingga tuduhan kekerasan dan rasisme yang menimpa suporter Argentina. Semua insiden ini terjadi dalam rentang waktu yang singkat, menambah warna tersendiri bagi turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Dalam pertandingan semifinal yang mempertemukan Inggris dan Argentina, terjadi sebuah rekor sejarah yang membosankan. Jaringan statistik sepak bola global Opta mengungkap bahwa laga tersebut menjadi pertandingan Piala Dunia pertama sejak 1966 yang tidak mencatat satu pun tembakan ke gawang selama 30 menit pertama. Kehati-hatian ekstrem kedua tim membuat penonton lebih sibuk menghitung menit daripada peluang. Rekor sebelumnya untuk waktu tunggu terlama hingga tembakan pertama justru dipegang oleh Inggris sendiri, saat melawan Norwegia. Squawka menambahkan, tidak ada pertandingan di Piala Dunia 2026 yang memiliki jumlah tembakan lebih sedikit di babak pertama selain laga ini, dengan hanya tiga tembakan selama 45 menit. Ironisnya, Inggris sebelumnya lolos ke semifinal setelah mengalahkan Norwegia 2-1 di perempat final.
Sementara itu, di babak perempat final, terjadi akhir pahit bagi era ‘generasi emas’ Belgia. Kesalahan kiper muda Senne Lammens pada menit ke-88 membuat Belgia takluk 2-1 dari Spanyol. Bola liar yang gagal diamankan Lammens langsung disambar Mikel Merino untuk memastikan kemenangan Spanyol. Lammens, yang tampil gemilang bersama Manchester United musim lalu, tidak mampu mengatasi tekanan panggung sebesar Piala Dunia. Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena laga tersebut mungkin menjadi panggung terakhir bagi kuartet veteran Thibaut Courtois, Romelu Lukaku, Kevin de Bruyne, dan Axel Witsel, yang telah membela Belgia sejak 2014. Courtois, yang harus ditarik keluar karena cedera, hanya bisa terpaku menyaksikan mimpi buruk itu.
Di sisi lain, terjadi kontroversi di luar lapangan yang melibatkan suporter Argentina. Mereka dituduh melakukan kekerasan dan tindakan rasisme terhadap pendukung Mesir dan Tanjung Verde. Dalam laga 16 besar melawan Mesir, sejumlah suporter Argentina terekam melemparkan bir ke arah pendukung Mesir setelah Argentina mencetak gol penyeimbang. Tuduhan ini muncul di tengah perjalanan Argentina mempertahankan gelar juara dunia, yang akhirnya berhasil lolos ke final melawan Spanyol.
Kesimpulannya, Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan pertandingan sepak bola berkualitas, tetapi juga diwarnai berbagai insiden yang memicu perdebatan. Rekor negatif, kegagalan tim besar, dan tuduhan rasisme menjadi pengingat bahwa turnamen ini tidak lepas dari dinamika sosial dan emosi yang meluap-luap. Semua peristiwa ini terjadi dalam waktu yang berdekatan, menjadikan Piala Dunia edisi ini sebagai salah satu yang paling kontroversial dalam sejarah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












