Ketegangan Memuncak: Rayan Cherki Berselisih dengan Deschamps di Laga Perpisahan yang Pahit
Plat Merah – Prancis menutup perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan kekalahan dramatis 6-4 dari Inggris dalam laga perebutan tempat ketiga di Miami Stadium. Namun, yang menjadi sorotan utama bukan hanya skor akhir, melainkan insiden ketegangan antara gelandang muda Rayan Cherki dan pelatih Didier Deschamps di pinggir lapangan. Rayan Cherki, yang baru pertama kali menjadi starter di turnamen ini, terlibat adu sikap dengan Deschamps saat jeda minum babak pertama, menambah daftar panjang masalah internal Les Bleus.
Dalam pertandingan yang berlangsung Jumat malam (18/7/2026), Inggris tampil dominan sejak awal. Gol cepat Declan Rice pada menit ketiga, diikuti Ezri Konsa (18′), dan dua gol Bukayo Saka (37′ dan 45+1′) membuat Prancis tertinggal 0-4 saat turun minum. Babak kedua menjadi saksi kebangkitan sementara Les Bleus lewat gol Kylian Mbappé (48′, 66′) dan Bradley Barcola (54′). Namun, Saka mencetak hat-trick melalui penalti (87′) sebelum Jude Bellingham memastikan kemenangan Inggris dengan gol solo di menit 90+8. Ousmane Dembélé sempat memperkecil kedudukan di menit 90+6, tetapi tidak cukup untuk menyelamatkan Prancis.
Momen kritis terjadi saat jeda minum babak pertama. Kamera menangkap Deschamps mendekati Rayan Cherki untuk memberikan instruksi taktis, namun gelandang Manchester City itu merespons dengan melambaikan tangan, membalikkan badan, dan meninggalkan pelatihnya. Sikap ini langsung menuai kritik dari media Prancis, yang menilainya sebagai tindakan tidak hormat. Menurut laporan L’Equipe, Cherki mendapat nilai dua dari sepuluh untuk penampilannya dan ditarik keluar saat turun minum, digantikan oleh Dembélé.
Ini bukan pertama kalinya Rayan Cherki menunjukkan ketegangan dengan Deschamps. Sebelumnya, pada babak 32 besar melawan Swedia, Cherki terlihat mengabaikan sang pelatih saat dimasukkan sebagai pemain pengganti. Saat itu, Deschamps mencoba berbicara dengannya, namun Cherki justru berjalan pergi sambil menurunkan kaus kakinya, sebuah momen yang viral di media sosial.
Usai pertandingan, Deschamps memilih bersikap diplomatis. “Saya tidak akan menyelesaikan masalah hari ini,” katanya dalam konferensi pers. “Para pemain tahu betul. Saya tidak akan menunjuk jari. Namun, itu adalah kesalahan saya; saya seharusnya membuat pilihan yang berbeda sejak awal.” Pelatih yang mengakhiri masa baktinya selama 14 tahun ini juga menambahkan bahwa setiap orang dinilai dari performanya, dan ia mendoakan yang terbaik untuk para pemain.
Di sisi lain, insiden ini menambah catatan kelam perpisahan Deschamps. Selain konflik dengan Rayan Cherki, pemain lain seperti Michael Olise juga dilaporkan menangis di ruang ganti dan mengambil tanggung jawab pribadi atas kekalahan tersebut. Olise, yang membuang dua peluang emas di babak kedua, menjadi salah satu simbol kegagalan kebangkitan Prancis.
Kekalahan ini menjadi akhir yang pahit bagi Deschamps, yang telah membawa Prancis juara dunia 2018 dan runner-up 2022. Namun, bagi Rayan Cherki, ini mungkin menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menghormati otoritas pelatih, meskipun ia memiliki potensi besar sebagai playmaker. Dengan performa yang mengecewakan sepanjang turnamen—tanpa gol atau assist—Cherki harus segera memperbaiki sikapnya jika ingin menjadi andalan tim nasional di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












