Krisis FIFA: UEFA dan CONCACAF Nyatakan Kehilangan Kepercayaan pada Gianni Infantino
PlatMerah.com – Ketua FIFA Gianni Infantino menghadapi tekanan besar setelah dua konfederasi regional, UEFA dan CONCACAF, secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinannya. Pernyataan ini muncul setelah Infantino membatalkan rencana kontroversial untuk menjual saham kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta.
Keputusan pembatalan itu diambil setelah mendapat penolakan luas dari berbagai pihak, termasuk UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). UEFA bahkan mengancam akan memboikot kompetisi FIFA jika rencana tersebut diteruskan. Penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, juga mengundurkan diri sebagai bentuk protes, dan Kepala Operasional FIFA, Kevin Lamour, mengkritik rencana tersebut.
Rencana yang Memicu Kemarahan
Infantino mengusulkan pembentukan entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise yang akan menggabungkan aktivitas komersial dan penyelenggaraan turnamen FIFA dengan menawarkan saham kepada investor swasta. Namun, banyak pihak menganggap langkah ini tidak transparan dan berpotensi merugikan sepak bola global.
UEFA, melalui pernyataannya, menyebut rencana tersebut sebagai “skema rahasia” dan “kesepakatan di belakang layar” yang dibuat oleh “individu tanpa wajah”. UEFA juga menegaskan bahwa kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA saat ini telah hilang, tidak hanya dari UEFA tetapi juga dari banyak anggota keluarga sepak bola lainnya.
Kronologi dan Reaksi
Rencana tersebut pertama kali dilaporkan pada akhir Juli 2023. Setelah mendapat tentangan keras, Infantino akhirnya membatalkan usulan tersebut pada 1 Agustus 2023. Namun, pengumuman pembatalan itu tidak meredakan kritik. UEFA dan CONCACAF justru semakin vokal menuntut perubahan mendasar dalam tata kelola FIFA.
CONCACAF, yang membawahi sepak bola di Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, menyatakan bahwa proposal tersebut diajukan tanpa melalui proses tata kelola yang benar, tanpa transparansi, konsultasi, atau due process. Mereka menambahkan bahwa proposal sebesar itu tidak mungkin muncul secara kebetulan, melainkan merupakan gejala dari kepemimpinan yang tidak lagi menempatkan sepak bola sebagai prioritas utama.
Dampak pada Masa Depan Infantino
Krisis ini muncul menjelang pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan pada Maret 2024. Infantino, yang telah memimpin FIFA sejak 2016, berencana mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan keempat. Namun, dengan hilangnya kepercayaan dari dua konfederasi besar, peluangnya untuk terpilih kembali menjadi tidak pasti.
UEFA dan CONCACAF telah menyatakan bahwa mereka akan meninjau kembali dukungan mereka terhadap Infantino. UEFA bahkan mengisyaratkan bahwa “tidak ada pilihan yang harus dikesampingkan” dalam upaya memperbaiki tata kelola FIFA.
Beberapa pihak juga menyoroti bahwa insiden ini menunjukkan perlunya reformasi struktural di FIFA, termasuk pembatasan masa jabatan presiden dan peningkatan transparansi dalam pengambilan keputusan. Infantino sendiri, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa tujuannya adalah “menyatukan dan memperbaiki” sepak bola, tetapi banyak yang meragukan komitmennya setelah kontroversi ini.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari FIFA mengenai langkah selanjutnya. Namun, tekanan terhadap Infantino diperkirakan akan terus meningkat, terutama dari UEFA yang dipimpin oleh Aleksander Čeferin, yang telah menjadi kritikus vokal terhadap kepemimpinan Infantino.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












