Skandal Riset Palsu ITB Mengguncang Dunia Akademik: Alumni Terlibat, Kampus Tegaskan Sikap
Plat Merah – Alumninya terlibat dugaan skandal riset palsu, ITB sampaikan sikap [titlebase] menjadi sorotan utama setelah konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark pada 17-21 Mei 2026 mengungkap dugaan manipulasi data oleh seorang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Kasus ini menimbulkan pertanyaan serius tentang integritas penelitian di tingkat internasional dan menuntut klarifikasi resmi dari institusi pendidikan tinggi.
Prihantini, lulusan Program Magister Matematika FMIPA ITB angkatan 2020 yang menamatkan studinya pada tahun 2022, menjadi nama yang paling sering disebut. Materi yang dipresentasikannya di ISPPD tidak berkaitan dengan tesisnya yang berjudul “Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring”. Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, menegaskan bahwa presentasi tersebut merupakan inisiatif pribadi di luar kurikulum dan tidak mencerminkan aktivitas akademik institusi.
Alumninya terlibat dugaan skandal riset palsu, ITB sampaikan sikap [titlebase] juga menyinggung dua alumni lain, Rifaldy Fajar dan Riana Dwi Kurniawati, yang dikaitkan dengan penelitian serupa. Penelitian tersebut mencakup topik-topik seperti AI‑driven integration of minority stress dalam terapi hormon gender‑affirming dan model imunoeepigenetik untuk prediksi necrotizing enterocolitis pada neonatus prematur. Kedua topik tersebut dimasukkan dalam daftar publikasi yang dipertanyakan keabsahannya.
Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) juga memberikan klarifikasi terkait salah satu penulis, Sahnaz Vivinda Putri, yang sebelumnya tercatat sebagai mahasiswa UISI. Pihak universitas menegaskan tidak ada laboratorium bernama Health Management Laboratory di kampus, menolak keterkaitan institusi dengan riset yang dipertanyakan.
Berikut adalah rangkuman langkah‑langkah yang diambil oleh ITB dalam menanggapi kasus ini:
- Menegaskan bahwa tindakan Prihantini merupakan tanggung jawab pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi.
- Menghormati proses hukum yang mungkin akan dijalankan terhadap individu terkait.
- Memperketat prosedur pengawasan karya ilmiah dan meningkatkan pelatihan etika penelitian bagi mahasiswa dan dosen.
- Menjaga reputasi internasional ITB dengan menegaskan komitmen terhadap integritas akademik.
ITB menekankan pentingnya memisahkan ranah pribadi alumni dengan integritas kelembagaan. “Jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” ujar Aep Patah dalam pernyataan tertulisnya. Pernyataan ini selaras dengan kebijakan universitas yang menolak segala bentuk plagiarisme, fabrikasi data, dan manipulasi hasil penelitian.
Alumninya terlibat dugaan skandal riset palsu, ITB sampaikan sikap [titlebase] menjadi contoh nyata bagaimana institusi pendidikan tinggi harus bersikap proaktif dalam melindungi kredibilitas ilmiah. Masyarakat akademik diharapkan dapat menilai secara objektif, memisahkan antara kesalahan individu dan standar institusional.
Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang mekanisme verifikasi peer‑review pada konferensi internasional. Para pakar menilai bahwa penyaringan yang ketat dan transparansi data menjadi kunci untuk mencegah penyebaran riset palsu di panggung global.
Secara keseluruhan, skandal ini menegaskan bahwa integritas penelitian bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga kewajiban kolektif lembaga pendidikan. Dengan langkah‑langkah yang diambil, ITB berupaya menjaga kepercayaan publik dan memastikan bahwa standar akademik tetap terjaga di era digital yang semakin menuntut akurasi dan kejujuran ilmiah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












