Akademisi FH UNEJ Tekankan Fokus Tri Dharma dalam Program Makan Bergizi Gratis
Latar Belakang Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Plat Merah – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan pemerintah Indonesia pada tahun 2024 sebagai upaya strategis mengatasi masalah gizi buruk di wilayah‑wilayah rawan. Program ini mengandalkan pendirian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berfungsi sebagai dapur umum, distribusi makanan, dan edukasi gizi bagi keluarga berpendapatan rendah. Hingga akhir 2025, lebih dari 150 SPPG tersebar di 12 provinsi, termasuk Jawa Timur, dengan target menurunkan prevalensi stunting sebesar 5% dalam tiga tahun ke depan.
Suara Akademisi: Pandangan Dr. Aries Harianto
Dr. Aries Harianto, dosen Fakultas Hukum Universitas Jember (FH UNEJ) sekaligus Ketua Dewan Pakar ICMI Jember, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki mandat utama yang berbeda dari lembaga operasional. “Perguruan tinggi dibangun untuk mencetak sumber daya manusia unggul, mengembangkan ilmu pengetahuan melalui riset, serta memberikan kontribusi pemikiran bagi penyelesaian persoalan bangsa,” ujarnya dalam sebuah wawancara pada 3 Juli 2026. Menurut Dr. Aries, peran kampus seharusnya berada pada ranah akademik, bukan sebagai pengelola harian SPPG.
Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pilar Utama dalam Kebijakan Publik
Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—menjadi landasan filosofis bagi semua institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Dalam konteks MBG, Dr. Aries menyoroti bahwa:
- Pendidikan: Menyiapkan tenaga ahli gizi, manajemen logistik, serta kebijakan publik melalui kurikulum terintegrasi.
- Penelitian: Mengkaji keamanan pangan, efektivitas distribusi, dan dampak gizi terhadap pertumbuhan anak.
- Pengabdian: Memberikan rekomendasi berbasis bukti kepada pemerintah, bukan melaksanakan operasi dapur.
Jika kampus melampaui ketiga pilar tersebut dan terjun ke operasional, risiko terjadinya pergeseran fokus dan penurunan kualitas akademik akan meningkat.
Peran Strategis Akademik dalam MBG
Alih-alih menjadi pengelola, FH UNEJ dan perguruan tinggi lainnya dapat memberikan kontribusi signifikan melalui:
- Riset keamanan pangan dan standar gizi yang disesuaikan dengan kondisi lokal.
- Evaluasi kebijakan MBG berbasis data, termasuk analisis biaya‑manfaat.
- Penyusunan model pengawasan dan akuntabilitas yang dapat diadopsi oleh pemerintah.
- Penyediaan pelatihan bagi tenaga operasional SPPG melalui modul akademik.
Dengan memusatkan energi pada bidang-bidang ini, kampus tidak hanya memperkuat kredibilitas ilmiahnya, tetapi juga meningkatkan efektivitas program secara keseluruhan.
Kronologi Perkembangan MBG dan Keterlibatan Akademik
- 2024 Q1: Pemerintah mengumumkan Program MBG, target 100 SPPG dalam dua tahun pertama.
- 2024 Q3: FH UNEJ menandatangani MoU dengan Dinas Kesehatan Jember untuk pilot riset gizi.
- 2025 Q2: Peluncuran 75 SPPG, FH UNEJ mulai mengirim tim peneliti lapangan.
- 2025 Q4: Evaluasi pertama menunjukkan penurunan stunting 2,3% di wilayah pilot.
- 2026 Q1: Dr. Aries Harianto mengeluarkan pernyataan publik menegaskan pentingnya fokus Tri Dharma.
Data Kuantitatif: Kondisi MBG hingga 2025
| Tahun | Jumlah SPPG | Target Nasional | Penurunan Stunting (%) |
|---|---|---|---|
| 2024 | 45 | 100 | – |
| 2025 | 150 | 200 | 2,3 |
| 2026 (proyeksi) | 200 | 250 | 5,0 |
Dampak dan Implikasi Bagi Berbagai Pihak
Masyarakat: Jika kampus fokus pada riset dan rekomendasi, kebijakan yang dihasilkan akan lebih tepat sasaran, meningkatkan kepastian gizi bagi keluarga penerima manfaat. Sebaliknya, penugasan operasional dapat menurunkan kualitas layanan karena kurangnya keahlian manajerial khusus.
Pemerintah: Kolaborasi akademik memperkaya basis data kebijakan, memungkinkan penyesuaian program secara dinamis. Tanpa dukungan ilmiah, risiko inefisiensi, kebocoran dana, dan kegagalan target akan lebih tinggi.
Industri Pangan: Riset universitas dapat membuka peluang inovasi produk pangan fortifikasi yang sesuai standar gizi, sekaligus memberi pedoman regulasi bagi produsen.
Institusi Pendidikan Tinggi: Memperkuat peran Tri Dharma meningkatkan reputasi, menarik dana riset, dan menegaskan posisi sebagai mitra strategis pemerintah.
Strategi Implementasi Kolaboratif ke Depan
Berikut langkah‑langkah yang direkomendasikan Dr. Aries untuk mengoptimalkan sinergi antara MBG dan perguruan tinggi:
- Penetapan forum ilmiah berkelanjutan antara Kementerian Kesehatan, Dinas Sosial, dan perwakilan universitas.
- Pembuatan tim riset lintas‑disiplin (hukum, kesehatan, ekonomi) yang fokus pada evaluasi kebijakan MBG.
- Penerbitan jurnal khusus yang memuat temuan lapangan, rekomendasi, serta best practice.
- Pengembangan modul pelatihan berbasis riset untuk staf operasional SPPG.
Dengan mekanisme ini, peran akademik tetap terjaga dalam tiga pilar Tri Dharma, sementara pelaksanaan operasional diserahkan pada lembaga yang memang memiliki kapabilitas manajerial.
Seiring program MBG terus berkembang, panggilan Dr. Aries Harianto menjadi pengingat penting bahwa kekuatan sejati perguruan tinggi terletak pada kemampuan menghasilkan pengetahuan, bukan sekadar mengelola logistik. Bila kampus tetap berpegang pada Tri Dharma, kontribusinya tidak hanya akan meningkatkan kualitas gizi nasional, tetapi juga memperkuat fondasi ilmiah bagi kebijakan publik Indonesia yang lebih adil dan berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.








