310 Guru Surabaya Tingkatkan Kompetensi dengan Pelatihan AI: Transformasi Pembelajaran di Era Digital
Plat Merah – Surabaya, 9 Juli 2026 – Sebanyak 310 guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Surabaya menyelesaikan program Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru yang berfokus pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam proses pembelajaran. Program tiga hari ini diselenggarakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Dengan tema Transformasi Pembelajaran di Era Digital untuk Mewujudkan Guru Inovatif dan Berdampak, pelatihan ini menandai langkah konkret pemerintah daerah dan institusi akademik dalam menyiapkan tenaga pendidik yang siap memimpin revolusi digital di kelas.
Latar Belakang Kebijakan dan Kebutuhan Transformasi
Indonesia berada pada fase percepatan digitalisasi pendidikan yang dipicu oleh agenda National Education Digitalization Roadmap 2025-2035. Pemerintah menargetkan 80% sekolah negeri memiliki infrastruktur digital pada 2027, sekaligus meningkatkan literasi AI bagi pendidik. Surabaya, sebagai kota metropolitan terdepan, menanggapi tantangan ini dengan mengintegrasikan AI ke dalam program pengembangan profesional guru. Menurut data Dinas Pendidikan Surabaya, hanya 22% guru yang pernah mengikuti pelatihan AI pada tahun sebelumnya, menjadikan kebutuhan akan kapasitas teknis dan pedagogis semakin mendesak.
Rangkaian Pelatihan: Jadwal, Materi, dan Metode
| Hari | Topik Utama | Narator / Fasilitator |
|---|---|---|
| Hari I (8 Juli) | Fundamentals AI dalam Pendidikan & Etika Penggunaan AI | Dr. Asmaul Lutfauziah (Unusa) & Tim Etika AI Dinas Pendidikan |
| Hari II (9 Juli) | Pembuatan Bahan Ajar Digital & Media Interaktif Berbasis AI | Dr. Nafiah (Dekan FKIP Unusa) & Pakar LMS AI |
| Hari III (10 Juli) | Implementasi Learning Management System Tanpa Coding & Evaluasi Pembelajaran AI | Tim Pengembang Platform AI Lokal & Praktisi Sekolah |
Keterampilan Utama yang Diperoleh
- Mengidentifikasi peluang penggunaan AI untuk mempersonalisasi materi pelajaran.
- Mendesain science storybook berbantuan AI yang menggabungkan narasi dan konsep sains.
- Mengoperasikan platform LMS berbasis AI tanpa menulis kode (drag‑and‑drop).
- Menyiapkan kuis adaptif, forum diskusi otomatis, dan analitik belajar berbasis data.
- Menerapkan prinsip etika AI: privasi data siswa, bias algoritma, dan transparansi.
Suara Narasumber: Pandangan Akademisi dan Praktisi
Dr. Asmaul Lutfauziah, dosen Program Magister Pendidikan Dasar Unusa, menekankan peran AI sebagai alat bantu, bukan pengganti guru. “Kami ingin guru memahami bahwa AI adalah alat bantu yang dapat memperkuat proses pembelajaran. Guru tetap menjadi sosok utama yang menentukan kualitas belajar peserta didik,” ujarnya pada Rabu, 8 Juli 2026. Ia menambahkan, “Anak‑anak pada dasarnya menyukai cerita. AI dapat membantu guru menyusun bahan ajar lebih cepat, tetapi kreativitas dan sentuhan pedagogis tetap berada di tangan guru.”
Dr. Nafiah, Dekan FKIP Unusa, menyoroti pentingnya kemampuan teknis yang dapat diakses semua guru, tidak terbatas pada mereka yang memiliki latar belakang IT. “Pengembangan LMS tanpa coding memungkinkan guru fokus pada desain pembelajaran, bukan pemrograman. Ini mempercepat adopsi teknologi di kelas,” katanya.
Dampak dan Implikasi bagi Berbagai Pemangku Kepentingan
Pelatihan ini memberikan efek domino pada tiga level utama:
- Siswa: Dengan materi yang dipersonalisasi, siswa dapat belajar dengan kecepatan dan gaya yang lebih sesuai, meningkatkan motivasi dan hasil belajar.
- Guru: Peningkatan kompetensi digital meningkatkan kepercayaan diri, membuka peluang karir tambahan seperti konsultan pembelajaran digital atau pengembang konten AI.
- Sistem Pendidikan: Dinas Pendidikan Surabaya memperoleh data real‑time mengenai kesiapan guru, yang dapat dijadikan dasar kebijakan alokasi anggaran teknologi ke sekolah.
Selain itu, industri edtech lokal mendapatkan peluang pasar yang lebih luas. Perusahaan penyedia platform LMS AI mencatat lonjakan permintaan demo setelah pelatihan, menandakan potensi kolaborasi jangka panjang antara akademisi, pemerintah, dan sektor swasta.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meskipun antusiasme tinggi, terdapat beberapa kendala yang perlu diatasi:
- Koneksi Internet di beberapa wilayah pinggiran Surabaya masih belum stabil, menyulitkan implementasi LMS berbasis cloud.
- Literasi Data guru masih terbatas; kemampuan menganalisis hasil belajar berbasis AI memerlukan pelatihan lanjutan.
- Keberlanjutan program: Tanpa dukungan anggaran berkelanjutan, pelatihan satu kali dapat kehilangan momentum.
Langkah Selanjutnya dan Visi Jangka Panjang
FKIP Unusa bersama Dinas Pendidikan merencanakan program follow‑up berupa coaching clinic bulanan, serta pembuatan community of practice daring untuk berbagi best practice. Target jangka lima tahun adalah meningkatkan persentase guru yang mengintegrasikan AI dalam setidaknya satu mata pelajaran menjadi 70%.
Secara lebih luas, Surabaya berharap menjadi contoh kota pintar dalam pendidikan, dimana AI tidak hanya menjadi gadget kelas, melainkan bagian integral dari kurikulum yang menyiapkan generasi siap menghadapi ekonomi berbasis data dan teknologi.
Dengan semangat inovasi dan kolaborasi lintas sektor, 310 guru yang telah menyelesaikan pelatihan ini menjadi agen perubahan. Mereka tidak hanya membawa pulang sertifikat, tetapi juga visi baru: menjadikan AI sebagai mitra dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, adaptif, dan berdaya saing tinggi. Perjalanan mereka baru saja dimulai, namun langkah pertama yang diambil di ruang kelas Surabaya sudah menandai era pendidikan yang lebih cerdas dan manusiawi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













