Skandal Paskibraka: Nama Cathlyn Dicoret dari Daftar Calon Nasional, DPRD Siapkan Panggilan Panitia Seleksi

Skandal Paskibraka: Nama Cathlyn Dicoret dari Daftar Calon Nasional, DPRD Siapkan Panggilan Panitia Seleksi

Plat Merah – Nama Cathlyn dicoret dari daftar calon Paskibraka nasional, DPRD bakal panggil panitia seleksi [titlebase] menjadi sorotan utama setelah seorang siswi Makassar, Cathlyn Yvaine Lesmana, dikabarkan tidak lolos seleksi tingkat nasional yang semula dijanjikan akan mewakili Sulawesi Selatan di Istana Negara.

Seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional biasanya melibatkan ribuan peserta dari seluruh provinsi, dengan tahapan yang menilai kemampuan fisik, kedisiplinan, serta pengetahuan tentang nilai-nilai kebangsaan. Namun, pada pekan terakhir proses seleksi, nama Cathlyn tiba-tiba tidak muncul pada daftar final yang diumumkan oleh Komite Nasional Paskibraka, menimbulkan kecurigaan adanya faktor diskriminatif, terutama terkait kemampuan berbahasa daerah yang dianggap kurang memadai.

Hardy Stefanus, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Indonesia‑Tionghoa (INTI), menyatakan bahwa organisasi mereka telah memantau proses seleksi sejak awal. “Kami menekankan pentingnya objektivitas, transparansi, dan keadilan dalam setiap tahapan. Koordinasi dengan Pengurus Daerah INTI Sulsel serta Generasi Muda Indonesia Tionghoa (GEMA INTI) telah dilakukan untuk memastikan tidak ada pihak yang mengabaikan nilai persatuan,” ujarnya dalam konferensi pers daring.

Sementara itu, Bustanul Arifin, Kepala Kesbangpol Sulawesi Selatan, menegaskan bahwa tidak ada bukti resmi tentang pergantian peserta secara ilegal. “Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai tiga peserta terbaik yang akan melaju ke tingkat nasional. Apa yang beredar di media sosial belum sesuai dengan fakta yang kami miliki,” katanya pada program Metro Siang Metro TV, Jumat 29 Mei 2026.

Menanggapi situasi yang memanas, Perhimpunan INTI menawarkan beasiswa kuliah kepada Cathlyn sebagai bentuk dukungan moral dan material. Beasiswa tersebut mencakup biaya pendidikan penuh di perguruan tinggi pilihan, serta pendampingan akademik. Tawaran serupa juga diberikan kepada peserta lain, Meivylicha Putri Aurelia Kamal, yang juga berada dalam proses seleksi.

Reaksi publik tidak kalah sengit. Banyak netizen menilai pencoretan nama Cathlyn sebagai contoh nyata diskriminasi terhadap minoritas etnis Tionghoa di Indonesia. Tagar #CathlynDicoret menjadi trending di beberapa platform media sosial, menuntut penyelidikan lebih lanjut dan penegakan hukum yang tegas.

Seiring tekanan publik yang terus meningkat, DPRD Sulawesi Selatan mengumumkan rencananya untuk memanggil panitia seleksi Paskibraka nasional guna meninjau kembali prosedur dan kriteria yang digunakan. “Nama Cathlyn dicoret dari daftar calon Paskibraka nasional, DPRD bakal panggil panitia seleksi [titlebase] demi memastikan tidak ada lagi praktik diskriminatif dalam proses seleksi,” ujar Ketua DPRD Sulsel dalam pernyataan resmi.

Kesimpulannya, kasus pencoretan Cathlyn menyoroti pentingnya transparansi dalam proses seleksi nasional, sekaligus menegaskan peran lembaga pemerintahan dan organisasi non‑pemerintah dalam menjaga keadilan bagi generasi muda. Langkah DPRD memanggil panitia seleksi diharapkan menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem, sementara beasiswa yang ditawarkan INTI memberikan harapan baru bagi Cathlyn dan rekan-rekannya untuk melanjutkan pendidikan tanpa hambatan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup