BWS Babel Anggarkan Rp4 Miliar untuk Normalisasi dan Tanggul Sungai Rangkui

BWS Babel Anggarkan Rp4 Miliar untuk Normalisasi dan Tanggul Sungai Rangkui

Latar Belakang Program

Plat Merah – Kota Pangkalpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, selama ini rentan terhadap banjir pada musim hujan, terutama di kawasan hilir Sungai Rangkui. Banjir yang sering terjadi akibat sedimentasi alur sungai dan kerusakan tanggul telah berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat sekitar, termasuk kerusakan jalan, fasilitas umum, dan risiko kesehatan. Untuk mengatasi masalah ini, Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung mengusulkan proyek normalisasi dan pembangunan tanggul Sungai Rangkui dengan anggaran Rp4 miliar pada Tahun Anggaran 2026.

Kronologi Penyusunan Anggaran

Proyek ini awalnya dianggarkan dengan total dana Rp12 miliar dalam Rancangan Kebijakan Umum Anggaran (RKA-KL) 2026. Namun, melalui proses negosiasi dan evaluasi anggaran, nilai tersebut berhasil dipertahankan hingga Rp5 miliar. Kepala Satuan Kerja SNVT PJSA BWS Bangka Belitung, Agus Saputra, menjelaskan bahwa angka kontrak akhir proyek sekitar Rp4 miliar, menyesuaikan dengan keterbatasan sumber daya pemerintah daerah dan prioritas nasional.

PeriodeAnggaran (Rp)Keterangan
RKA-KL 202612.000.000.000Anggaran awal
Penyesuaian Mei 20265.000.000.000Anggaran dipangkas 58%
Kontrak Proyek4.000.000.000Nilai realisasi

Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat

Untuk memastikan kesuksesan proyek, BWS Babel menggelar sosialisasi di Kantor Camat Taman Sari, 7 Juli 2026. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 150 peserta, termasuk perwakilan pemerintah daerah, akademisi, dan warga sekitar. Agus Saputra menekankan pentingnya dukungan masyarakat dalam memitigasi risiko banjir. “Tanpa keterlibatan langsung masyarakat, proyek ini akan sulit berjalan optimal, terutama dalam pemeliharaan tanggul pasca-pembangunan,” ujarnya.

Reaksi Masyarakat dan Harapan

Warga kawasan Sungai Rangkui, seperti Baijuri, menyambut positif proyek ini. Ia meminta kualitas material konstruksi ditingkatkan agar tanggul tahan lama. “Material yang digunakan jangan dikompromikan. Pakai beton berkualitas agar 10-20 tahun ke depan masyarakat tidak kembali menghadapi masalah serupa,” kata Baijuri. Sementara itu, sejumlah aktivis lingkungan menyarankan pihak BWS menambahkan sistem drainase sekunder untuk mengimbangi normalisasi utama.

Tantangan dan Dampak Proyek

Proyek ini dihadapkan pada beberapa tantangan, antara lain keterbatasan anggaran yang memaksa penyesuaian skala pengerjaan. Meski begitu, BWS Babel optimis proyek bisa menurunkan frekuensi banjir hingga 60% di kawasan yang terdampak. Analisis dampak lingkungan (AMDAL) menyebutkan bahwa proyek ini juga akan meningkatkan kualitas air sungai dan mendukung usaha pariwisata berbasis ekowisata di sekitar kawasan.

Implikasi Jangka Panjang

Jika berhasil, proyek normalisasi Sungai Rangkui menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pengelolaan sumber daya air. Proyek ini juga berpotensi mendorong peningkatan investasi di sektor infrastruktur daerah. Namun, ketergantungan pada anggaran nasional membuat kelanjutan program rentan terhadap perubahan kebijakan fiskal pemerintah.

Proyek ini menjadi titik awal bagi BWS Babel untuk memperluas program serupa ke aliran sungai lain di Bangka Belitung, seperti Sungai Koba dan Sungai Air Garam. Keterlibatan aktif masyarakat dan transparansi anggaran akan menjadi kunci dalam menghindari risiko penyelewengan dana serta memastikan keberlanjutan proyek.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup