Belajar dari Ahmedabad: Apa yang Kota Lain Ajarkan tentang Jakarta
PlatMerah.com, Ahmedabad – Kota Ahmedabad di India memberikan pelajaran berharga bagi Jakarta dalam pengelolaan lingkungan dan tata kelola perkotaan yang sederhana namun konsisten. Kunjungan dalam rangka Global South Academic Conclave (GSAC) on WASH and Climate awal Februari 2026 membuka perspektif baru tentang bagaimana kota besar dengan tantangan urbanisasi dan kemiskinan dapat mengelola ruang kota dan layanan lingkungan secara inklusif dan efektif.
Pelajaran dari Sistem Kota Ahmedabad
Ahmedabad, meskipun menghadapi tantangan yang mirip dengan Jakarta seperti kepadatan penduduk dan kemiskinan, menunjukkan pengelolaan kota yang tertata rapi dan bersih. Tidak mengandalkan teknologi canggih, kota ini menerapkan sistem sederhana yang berjalan konsisten, seperti pengaturan zona untuk pedagang kaki lima dan usaha kuliner kecil. Pedagang kaki lima tidak diusir, melainkan diberi ruang yang jelas sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan penataan kota.
Sistem pengelolaan sampah juga menjadi contoh penting. Pengangkutan sampah dilakukan secara terpilah menggunakan kendaraan sederhana, namun konsisten dan tepat waktu sehingga tidak terjadi penumpukan sampah liar. Pelarangan plastik sekali pakai dijalankan dengan disiplin yang tinggi.
Transformasi Kawasan Sabarmati Riverfront
Kunjungan ke kawasan Sabarmati Riverfront memperlihatkan perubahan signifikan dari area kumuh menjadi ruang publik yang bersih, tertata, dan dapat dinikmati warga. Sungai yang dulunya diabaikan kini menjadi ruang bersama yang dirawat oleh masyarakat, tempat berkumpul, berolahraga, dan bersantai, menunjukkan pentingnya peran ruang publik dalam kualitas hidup perkotaan.
Refleksi untuk Jakarta
Bagi Jakarta, yang memiliki kapasitas fiskal dan sumber daya lebih besar, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mendalam: mengapa dengan sumber daya tersebut Jakarta masih berjuang mengatasi masalah dasar seperti pengelolaan sampah, sanitasi, dan kualitas sungai? Jawabannya terletak pada arah pembangunan, konsistensi pelaksanaan, serta kolaborasi kolektif antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha.
Program Eco Act dan Kuliner Hijau Cawang yang sedang dikembangkan di Jakarta menjadi contoh inisiatif untuk merancang ulang tata kelola lingkungan yang inklusif, khususnya dengan melibatkan pelaku usaha kecil di sektor kuliner informal. Program ini bertujuan menciptakan sistem pengelolaan lingkungan yang tidak hanya berbasis infrastruktur besar, tetapi juga hubungan sinergis antara regulasi, komunitas, dan layanan publik.
Kesempatan Belajar dari Kota Lain
Diskusi di GSAC menunjukkan bahwa setiap kota memiliki kekuatan dan tantangan unik. Ahmedabad unggul dalam penataan ruang dan konsistensi layanan, sedangkan Jakarta sedang menguji model tata kelola yang inklusif dan partisipatif. Pertukaran pengalaman ini menegaskan bahwa pembangunan kota bukanlah kompetisi, melainkan ruang belajar bersama untuk menciptakan kota yang lebih baik.
Nilai forum internasional seperti GSAC bukan hanya pada presentasi program, tetapi juga pada refleksi mendalam mengenai jenis kota yang ingin dibangun dan siapa yang menjadi mitra dalam proses tersebut. Jakarta, dengan program Eco Act, berupaya menjawab tantangan lingkungan di ekosistem urban padat dan berharap keberhasilan pilot project Kuliner Hijau Cawang dapat direplikasi di wilayah lain.
Menuju Kota yang Lebih Baik
Kota yang baik tidak selalu membutuhkan solusi teknologi mahal, melainkan sistem yang berjalan secara konsisten dan inklusif. Pelajaran dari Ahmedabad memperkuat keyakinan bahwa pengelolaan kota yang efektif membutuhkan arah yang jelas, konsistensi, kolaborasi, dan keterlibatan komunitas secara aktif.
Dengan pendekatan tersebut, Jakarta dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan ruang publiknya, memperkuat ekonomi informal yang tertata, dan menciptakan kota yang ramah, sehat, dan berkelanjutan bagi seluruh warganya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













