AI Canggih, Tata Krama Tetap Dijaga: Dialog Budaya di Surabaya Soroti Keseimbangan Teknologi dan Jati Diri Bangsa

AI Canggih, Tata Krama Tetap Dijaga: Dialog Budaya di Surabaya Soroti Keseimbangan Teknologi dan Jati Diri Bangsa

Kontroversi Teknologi di Tengah Pelestarian Budaya

Plat Merah – Surabaya, 16 Juli 2026 – Di bawah sinar matahari pagi yang menyinari kota Pahlawan, sebuah dialog mendalam berlangsung di RRI Surabaya. Forum bertema “AI Pancen Canggih Ananging Tata Krama Kudu Tetep Dijaga” menghadirkan anggota Dewan Kebudayaan Surabaya, Dr. Jarmani (62), dan Pecinta Budaya Nusantara, Ries Handono (48), untuk membahas tantangan jaman Now: bagaimana mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa di tengah kemajuan teknologi AI yang semakin merasuk ke segala aspek kehidupan.

Progres Teknologi vs. Erosi Jati Diri

Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 85% pada 2026, dengan 78% pengguna di bawah 30 tahun. Angka ini mencerminkan generasi muda yang akrab dengan teknologi canggih, namun kerentanan terhadap lunturnya nilai budaya semakin nyata. Dr. Jarmani mengutip fenomena yang ia sebut “digital myopia”—kecenderungan mengabaikan proses dan etika akibat terbiasa dengan solusi instan.

Indikator20202026Perkiraan 2030
Waktu rata-rata penggunaan gadget (jam/hari)5,37,28,5
Generasi muda menghafal puisi tradisional (%)623725
Nilai andhap asor diterapkan dalam interaksi sehari-hari (%)483119

Tantangan Generasi Z di Era AI

Ries Handono menyoroti dampak media sosial yang memicu “kultur 15 detik”. “Anak muda sekarang lebih terbiasa dengan konten singkat di TikTok dan Reels. Mereka ingin tahu jawaban langsung, tidak sabar untuk membangun kompetensi secara bertahap,” paparnya. Fenomena ini berimbas pada kemampuan berpikir kritis dan kreativitas. Studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa 65% siswa SMA kurang mampu menguraikan proses logika dalam penyelesaian masalah.

Strategi Pelestarian Budaya di Era Digital

Dialog tersebut menghasilkan peta jalan inovatif:

  1. AI sebagai Penjaga Budaya – Pengembangan aplikasi AI yang mampu membangun dialog interaktif tentang etika Jawa, sejarah Nusantara, dan tata krama adiluhung
  2. Program Pendidikan Karakter Digital – Integrasi nilai “tepa selira” dalam kurikulum sekolah, dengan pemanfaatan teknologi untuk simulasi konflik sosial dan penyelesaian yang harmonis
  3. Keluarga Digital – Pelatihan bagi orang tua dalam menetapkan batas waktu penggunaan gadget dan mencontohkan etika digital yang baik

Dampak Potensial bagi Masyarakat

Implementasi strategi ini diharapkan menghasilkan dampak signifikan:

  • Meningkatkan kebanggaan budaya dan identitas nasional
  • Mencegah degradasi etika interaksi sosial di ruang digital
  • Melahirkan generasi yang adaptif terhadap teknologi tanpa kehilangan akar budaya
  • Mendorong inovasi kreatif dengan dasar nilai-nilai luhur

AI sebagai Sarana Perekat Budaya

Dr. Jarmani mencontohkan proyek kolaborasi antara Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam mengembangkan AI Nusantara. Sistem ini mampu memahami konteks budaya lokal dan menyesuaikan respons sesuai nilai-nilai tradisional. “Kita bisa memiliki asisten virtual yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga mengajarkan cara menghormati orang tua, menyelesaikan konflik dengan damai, dan menjaga kebersihan lingkungan,” jelasnya.

Kesadaran ini muncul dari observasi bahwa 75% generasi milenial dan Gen Z lebih percaya pada teknologi daripada sumber informasi tradisional. Namun, sebaliknya, 82% dari mereka menginginkan teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga bermoral.

Kota Surabaya kini berada di depan gelombang perubahan ini. Dengan program “Kota Cerdas Berbudaya”, Pemkot mulai memasukkan nilai-nilai luhur dalam setiap proyek infrastruktur digital. Ini membuktikan bahwa teknologi canggih dan tata krama adiluhung bukanlah dua dunia yang bertentangan, tetapi dua elemen yang saling melengkapi untuk menciptakan masyarakat yang harmonis di era digital.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup