Alasan Siswi ‘Top 3’ di Sulsel Gagal Lolos Calon Paskibraka: Flat Foot
Plat Merah – Alasan Siswi ‘Top 3’ di Sulsel Gagal Lolos Calon Paskibraka: Flat Foot
Alasan siswi ‘top 3’ di Sulsel gagal lolos calon paskibraka: Flat foot [titlebase] masih menjadi sorotan di kalangan masyarakat. Seperti dilansir Kompas.com, Sekretaris Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, mengungkapkan alasan CYL, seorang siswi dinyatakan tak terpilih seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) ke tingkat nasional. Padahal, CYL masuk peringkat tiga besar. Jufri mengatakan, CYL punya kondisi penglihatan kurang tajam dan telapak kakinya datar.
CYL punya kondisi penglihatan kurang tajam dan telapak kakinya datar. "Kalau bukan karena matanya, penglihatannya agak kabur. Kemudian kakinya juga ada, apa istilahnya, flat foot atau telapak kaki datar," ungkap Jufri, Selasa (26/5). Selain itu meskipun punya nilai yang bagus, masih ada peserta lain yang mengungguli CYL. "Sejak tahapan seleksi calon peserta ke Jakarta, sudah ada peserta lain yang memiliki nilai lebih tinggi dari CYL," kata Jufri.
Dalam proses seleksi ini, lanjut Jufri, penilaian bukan hanya pada nilai akademik. Melainkan, juga dinilai dari berbagai aspek lain. Termasuk, pada kesehatan peserta seleksi. Meski dari awal ditemukan kekurangan dari CYL, tetapi pemerintah memberikan kebijakan untuk melanjutkan ke tahapan seleksi pusat. Tapi, CYL gugur pada tahap tersebut. "Karena dia diberi semangat, maka diikutkan ke seleksi pusat. Jadi, dia jatuhnya itu di pansel pusat, panitia seleksi di pusat, bukan di sini. Seperti itu," dalihnya.
Ia menegaskan, bahwa keputusan kelulusan sepenuhnya merupakan kewenangan panitia seleksi pusat, bukan panitia daerah Sulawesi Selatan. Menurut Jufri tidak tepat istilah 'dianulir atau diganti' dalam kasus ini.
Alasan siswi ‘top 3’ di Sulsel gagal lolos calon paskibraka: Flat foot [titlebase] masih menjadi sorotan di kalangan masyarakat. Seperti dilansir Kompas.com, Sekretaris Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, mengungkapkan alasan CYL, seorang siswi dinyatakan tak terpilih seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) ke tingkat nasional. Padahal, CYL masuk peringkat tiga besar. Jufri mengatakan, CYL punya kondisi penglihatan kurang tajam dan telapak kakinya datar.
CYL punya kondisi penglihatan kurang tajam dan telapak kakinya datar. "Kalau bukan karena matanya, penglihatannya agak kabur. Kemudian kakinya juga ada, apa istilahnya, flat foot atau telapak kaki datar," ungkap Jufri, Selasa (26/5). Selain itu meskipun punya nilai yang bagus, masih ada peserta lain yang mengungguli CYL. "Sejak tahapan seleksi calon peserta ke Jakarta, sudah ada peserta lain yang memiliki nilai lebih tinggi dari CYL," kata Jufri.
Dalam proses seleksi ini, lanjut Jufri, penilaian bukan hanya pada nilai akademik. Melainkan, juga dinilai dari berbagai aspek lain. Termasuk, pada kesehatan peserta seleksi. Meski dari awal ditemukan kekurangan dari CYL, tetapi pemerintah memberikan kebijakan untuk melanjutkan ke tahapan seleksi pusat. Tapi, CYL gugur pada tahap tersebut. "Karena dia diberi semangat, maka diikutkan ke seleksi pusat. Jadi, dia jatuhnya itu di pansel pusat, panitia seleksi di pusat, bukan di sini. Seperti itu," dalihnya.
Ia menegaskan, bahwa keputusan kelulusan sepenuhnya merupakan kewenangan panitia seleksi pusat, bukan panitia daerah Sulawesi Selatan. Menurut Jufri tidak tepat istilah 'dianulir atau diganti' dalam kasus ini.
"Kita semua mendukung agar justru dengan peringatan Hari Lahir Pancasila terjadi harmonisasi, persatuan semuanya," ujar Rima Agristina, Wakil Kepala BPIP. Sebelumnya, beredar narasi di media sosial tentang seorang siswi berinisial CYL yang disebut gagal menjadi anggota Paskibraka nasional mewakili Sulawesi Selatan usai namanya dicoret dari 10 besar peserta Paskibraka. CYL disebut digantikan oleh orang lain yang tidak masuk 10 besar peserta Paskibraka.
Namun, BPIP menegaskan tak ada diskriminasi dalam seleksi Paskibraka tingkat nasional 2026 di Sulawesi Selatan (Sulsel). BPIP menegaskan tak ada diskriminasi dalam seleksi itu. Sebagai informasi, kabar diskriminasi itu viral di media sosial. Dalam unggahan yang viral, seorang siswi SMA asal Kota Makassar disebut dicoret dari seleksi calon Paskibraka tingkat nasional karena dugaan diskriminasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









