Dituding Tekan Abdi Dalem Keraton Solo Soal Bikin Gunungan, Kubu Purbaya : Bukankah Harus Setia?
Plat Merah – Dituding Tekan Abdi Dalem Keraton Solo Soal Bikin Gunungan, Kubu Purbaya : Bukankah Harus Setia?
Dua kubu di Keraton Solo, yaitu Kubu Paku Buwono (PB) XIV Purbaya dan Kubu PB XIV Mangkubumi, tengah berkonflik internal.
Perpecahan ini terlihat jelas dalam pelaksanaan upacara adat Grebeg Besar, yang biasanya digelar secara bersamaan. Namun, kali ini keduanya menggelar grebeg besar terpisah.
Kubu PB XIV Purbaya menggelar Grebeg Besar terlebih dahulu, pada 27 Mei, diikuti oleh Kubu PB XIV Mangkubumi pada 28 Mei.
Grebeg Besar ini merupakan tradisi yang menguatkan rasa syukur dan persatuan masyarakat. Namun, konflik internal di Keraton Surakarta membuat pelaksanaan upacara adat menjadi terganggu.
Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta mengarak gunungan Grebeg Besar menuju Masjid Agung Solo, dalam rangka perayaan Idul adha 1447 Hijriah.
Kubu PB XIV Purbaya menggelar Grebeg Besar dimulai dari dalam Keraton Solo menuju ke Masjid Agung Solo. Makam Putri Cempo di Solo ternyata berlokasi di 2 tempat, yakni di tanggul kawasan Tirtonadi dan sekitar TPA Mojosongo.
Sosok yang sama? Masjid Agung Solo menyatakan telah menerima pemberitahuan ada 2 grebeg besar yang diselenggarakan Keraton Solo.
Gugatan PTUN soal nama Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Paku Buwono XIII oleh Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), Gusti Moeng, di tingkat kasasi ditolak.
Konflik internal di Keraton Surakarta berimbas pada pelaksanaan upacara adat. Masing-masing kubu menggelar acara sendiri-sendiri.
Dualisme kepemimpinan Keraton Solo muncul kembali dengan pemasangan baliho PB XIV Mangkubumi. Ini sebagai pengumuman raja baru dan peneguhan adat.
Baliho yang memajang foto Paku Buwono XIV Mangkubumi dipasang di Gladag, Solo.
Begini penjelasan Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









