Rupiah Terjun Bebas Mendekati Rp18.000 per USD, Konflik Timur Tengah dan Transisi BI Jadi Biang Kerok

Rupiah Terjun Bebas Mendekati Rp18.000 per USD, Konflik Timur Tengah dan Transisi BI Jadi Biang Kerok

Plat Merah – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD/IDR) kembali terpuruk pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026. Berdasarkan data pasar, kurs usd idr dibuka melemah 79,9 poin atau 0,45 persen ke level Rp17.987,9 per dolar AS. Pelemahan ini membuat rupiah nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000, level terlemah dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan terhadap usd idr terjadi di tengah ketidakpastian domestik akibat transisi kepemimpinan Bank Indonesia (BI) dan eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

Kurs jual USD di Bank Indonesia tercatat Rp18.062,87, naik Rp58,29 dibandingkan Jumat lalu. Sementara kurs beli juga meningkat menjadi Rp17.883,13. Pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Rupiah melemah terhadap baht Thailand (0,76 persen), ringgit Malaysia (0,47 persen), yen Jepang (0,46 persen), dolar Singapura (0,36 persen), yuan Tiongkok (0,31 persen), dan euro (0,25 persen). Namun, rupiah masih menguat terhadap won Korea Selatan sebesar 0,30 persen.

Yang menarik, pelemahan usd idr terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY) justru turun 0,30 persen ke level 101,000. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik dan sentimen risiko global. Pelaku pasar kini mencermati proses transisi kepemimpinan BI setelah Gubernur Perry Warjiyo mengajukan pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (26/7/2026). Presiden telah menerima pengunduran diri tersebut dan akan menindaklanjuti dengan penerbitan Keputusan Presiden. Meskipun BI menegaskan operasional tetap normal, ketidakpastian transisi membuat investor wait and see.

Di sisi lain, konflik Timur Tengah yang memanas turut memperburuk prospek rupiah. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam setelah milisi Houthi menyerang kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah, memicu ancaman militer dari Presiden AS Donald Trump. Minyak Brent sempat menembus level USD 100 per barel, tertinggi sejak Mei. Serangan ini mengancam kelancaran lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb, jalur energi kritis kedua di dunia. Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada beban impor Indonesia dan memperlebar defisit transaksi berjalan, yang pada akhirnya menekan usd idr.

Sementara itu, pemerintah Indonesia memangkas anggaran program makan gratis Presiden Prabowo sebesar lebih dari 2 miliar dolar AS, dari 268 triliun rupiah menjadi 229 triliun rupiah. Langkah ini merupakan bagian dari efisiensi belanja negara, namun juga menimbulkan kekhawatiran tentang target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Kombinasi faktor eksternal dan internal membuat rupiah terus tertekan. Para analis memperkirakan usd idr masih berpotensi melemah dalam jangka pendek, terutama jika konflik Timur Tengah semakin meluas dan transisi BI tidak segera menghasilkan kepastian.

Di pasar komoditas, harga emas dunia naik 1,16 persen ke USD4.100,18 per troy ons, mencerminkan peralihan investor ke aset safe haven. Hal ini menunjukkan sentimen risiko yang masih tinggi di pasar global. Dengan kondisi saat ini, rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah hingga ada kejelasan mengenai suksesi kepemimpinan BI dan meredanya ketegangan geopolitik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup