AS Batal Kirim Rudal Tomahawk ke Jerman, Khawatir Picu Respons Rusia
Plat Merah – Washington, 5 Juni 2026 – Amerika Serikat dikabarkan akan membatalkan rencana penjualan rudal jelajah Tomahawk ke Jerman. Keputusan ini memicu kekhawatiran di Eropa akan menurunnya kemampuan pertahanan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Rusia. Rencana pembatalan ini pertama kali mencuat setelah laporan Politico pada Kamis (4/6) yang mengutip sejumlah pejabat AS dan Eropa.
Menurut sumber tersebut, AS berencana batalkan penjualan rudal Tomahawk ke Jerman karena khawatir langkah itu akan dianggap Moskow sebagai provokasi berbahaya. Rudal Tomahawk, yang mampu menghantam sasaran sejauh lebih dari 1.600 kilometer, merupakan bagian dari kesepakatan yang dirancang sejak era Presiden Joe Biden pada 2024. Namun, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, kebijakan tersebut dipertanyakan ulang.
Kekhawatiran lain yang mendorong keputusan ini adalah menipisnya persediaan rudal AS akibat operasi militer melawan Iran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah memperingatkan Kongres bahwa penggantian stok amunisi bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Dengan demikian, AS berencana batalkan penjualan rudal Tomahawk ke Jerman juga untuk mengamankan cadangan domestik.
Keputusan ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Eropa. Jerman sebelumnya mengandalkan rudal Tomahawk untuk membangun kembali kemampuan serangan jarak jauh yang melemah selama bertahun-tahun. Rudal tersebut direncanakan untuk mengimbangi penempatan rudal Iskander Rusia di Kaliningrad yang dapat menjangkau ibu kota negara-negara Eropa Barat dalam hitungan menit.
Ketegangan antara Washington dan Berlin semakin memanas setelah perselisihan terbuka antara Presiden Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait konflik Iran. Trump kemudian mengumumkan penarikan 5.000 personel militer AS dari Jerman, dan Pentagon mengonfirmasi pembatalan pengerahan batalyon artileri jarak jauh yang dijadwalkan akhir tahun ini.
Para analis memperkirakan bahwa keputusan ini akan memaksa Eropa untuk lebih mandiri dalam pertahanan. Komandan tertinggi NATO, Jenderal Alexus Grynkewich, telah memberi sinyal bahwa Amerika akan memfokuskan kembali pasukannya ke kawasan lain. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di Berlin bahwa Eropa harus menutup kesenjangan kemampuan pertahanan lebih cepat dari kemampuan industri pertahanan regional.
Sementara itu, Iran juga menjadi faktor dalam keputusan ini. Pada 5 Juni, CENTCOM mengakui telah mencegat rudal balistik dan drone Iran di Selat Hormuz, serta melancarkan serangan balasan terhadap radar pengawas Iran di Pulau Qeshm. Peristiwa ini menunjukkan bahwa persediaan rudal AS semakin terkuras, memperkuat alasan Washington untuk membatalkan penjualan ke Jerman.
Dengan demikian, AS berencana batalkan penjualan rudal Tomahawk ke Jerman membawa dampak strategis yang luas. Jerman kini harus menghadapi Rusia dengan perlindungan yang lebih tipis dari yang diharapkan. Keputusan ini juga menandai perubahan sikap AS terhadap NATO, mendorong Eropa untuk mengambil tanggung jawab lebih besar atas pertahanannya sendiri. Di tengah ketidakpastian ini, masa depan keamanan Eropa berada dalam titik kritis.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










