Rupiah Ambles ke Level Psikologis Baru: Alarm Keras Krisis Fiskal dan Beban Hidup Rakyat

Rupiah Ambles ke Level Psikologis Baru: Alarm Keras Krisis Fiskal dan Beban Hidup Rakyat

Plat Merah – Rupiah ambles ke level psikologis baru: alarm keras krisis fiskal dan beban hidup rakyat semakin terasa ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus batas Rp18.000. Fenomena ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat dan pelaku pasar, meskipun pemerintah dan Bank Indonesia (BI) berupaya menenangkan situasi. Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Mohamad Hekal menyatakan bahwa pelemahan rupiah lebih dipicu oleh sentimen pasar ketimbang fundamental ekonomi yang sebenarnya membaik.

Dalam konferensi pers di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026), Hekal menjelaskan bahwa tidak ada batas waktu khusus bagi BI untuk mengembalikan rupiah ke level tertentu. Fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas pergerakan rupiah melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Pertemuan yang dihadiri Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Gubernur BI Perry Warjiyo ini menegaskan pentingnya koordinasi antarlembaga.

Menurut Hekal, angka Rp18.000 merupakan angka psikologis yang memicu persepsi negatif. Padahal, setelah pengumuman APBN triwulan I, kondisi ekonomi justru menunjukkan perbaikan dari bulan ke bulan. Namun, sentimen pasar yang negatif membuat rupiah terus tertekan. Ia menambahkan, “Saya rasa tidak ada deadline spesifik seperti itu. Yang ingin kita lihat adalah stabilitas di dalam pergerakan kurs rupiah.”

Rupiah ambles ke level psikologis baru: alarm keras krisis fiskal dan beban hidup rakyat juga tercermin dari kenaikan harga barang impor dan potensi inflasi. Masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi yang paling terdampak karena daya beli menurun. Ekonom menilai bahwa jika sentimen negatif terus berlanjut, rupiah bisa melemah lebih jauh, meskipun fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya cukup kuat.

Pemerintah dan BI berkomitmen untuk terus melakukan intervensi di pasar valas dan memperkuat koordinasi kebijakan. Hekal berharap sinergi antara fiskal dan moneter dapat meningkatkan kepercayaan pasar. “Kita berharap kedua pengendali sektor keuangan kita bisa memiliki koordinasi yang semakin baik,” ujarnya.

Rupiah ambles ke level psikologis baru: alarm keras krisis fiskal dan beban hidup rakyat menjadi pengingat bahwa stabilitas nilai tukar tidak bisa diabaikan. Meskipun faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga AS dan ketidakpastian global turut berperan, respons kebijakan domestik menjadi kunci. Ke depan, masyarakat berharap agar langkah-langkah konkret segera diambil untuk meredam gejolak dan melindungi daya beli rakyat.

Rupiah ambles ke level psikologis baru: alarm keras krisis fiskal dan beban hidup rakyat harus menjadi perhatian serius semua pihak. Dengan koordinasi yang solid dan kebijakan yang tepat, diharapkan rupiah dapat kembali stabil dan beban hidup rakyat tidak semakin berat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup