POMI Gelar Aksi Mendaki dan Penanaman Pohon di Hutan Lindung Situbondo: Upaya Konservasi Berkelanjutan
Perayaan Konservasi di Tengah Tantangan Perubahan Iklim
Plat Merah – Pada Kamis, 25 Juni 2026, PT Paiton Operation and Maintenance Indonesia (POMI) mengadakan kegiatan unik di kawasan hutan lindung Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo. Acara yang memadukan pendakian ke puncak Gunung Loros dengan penanaman pohon ini merupakan bagian dari upaya konservasi ekosistem yang berkelanjutan. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 60 peserta terdiri dari karyawan POMI, warga setempat, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Strategi Inovatif dalam Konservasi Lingkungan
Senior Manager PT POMI, Yoza Jamal, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang secara matang dengan pendekatan multi-sektoral. “Kami mengusung konsep tiga pilar: mendaki untuk memahami kondisi hutan, menanam untuk memulihkan ekosistem, dan membangun kemitraan dengan masyarakat,” ujarnya. Dalam rangkaian acara tersebut, peserta menempuh perjalanan 7 km menuju puncak Gunung Loros (500 mdpl) sambil menanam 500 pohon berbagai jenis.
| Jenis Pohon | Jumlah | Kontribusi Ekologis |
|---|---|---|
| Durian | 150 | Penyerap karbon tinggi, sumber pangan lokal |
| Alpukat | 200 | Penyumbang minyak alami, penyerap kelembapan |
| Kelengkeng | 150 | Penghasil buah musim, penyerap polutan |
Kemitraan Industri dan Masyarakat
Program ini merupakan bagian dari kerja sama berkelanjutan antara POMI dan Desa Selobanteng yang telah berlangsung sejak 2018. Kepala Desa Selobanteng, Muttaha, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini memberikan dampak signifikan. “Kami memperoleh pendapatan tambahan dari program pengelolaan hutan, sekaligus mengembangkan wisata ekologis yang mendatangkan kunjungan wisatawan setiap bulan,” kata Muttaha.
Kronologi Kegiatan
- 06.30 WIB: Kegiatan dimulai dengan doa bersama di pos 0
- 07.00 WIB: Apel pagi dan pemberian arahan oleh tim POMI
- 07.30 WIB: Dimulainya pendakian sambil menanam pohon di pos 1 (2 km)
- 10.00 WIB: Tiba di puncak dengan acara penanaman pohon di pos 2
- 11.30 WIB: Upacara penutupan dan evaluasi kegiatan
Transformasi Ekologis dan Edukasi
Wilayah ini kini menjadi pusat studi dan penelitian. Pemerintah desa melaporkan bahwa luas hutan lindung telah bertambah 15% sejak 2021. Beberapa lembaga pendidikan yang rutin melakukan kegiatan di sini antara lain:
- Universitas Brawijaya (studi ekosistem)
- Politeknik Negeri Jember (analisis biodiversitas)
- Universitas Argopuro (pengelolaan air tanah)
- LIPI Pasuruan (monitoring iklim mikro)
Dampak Jangka Panjang
Dengan konsistensi kegiatan ini, diharapkan bisa mencapai beberapa target hingga 2030:
- Meningkatkan penyerapan karbon hingga 500 ton/tahun
- Mengurangi risiko banjir hingga 30% di musim hujan
- Meningkatkan 20% pendapatan masyarakat dari sektor ekowisata
- Menciptakan 1000 pohon baru per tahun melalui program ‘Bank Pohon‘
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kerja sama antara sektor industri dan masyarakat lokal mampu menghasilkan solusi inovatif dalam menangani tantangan lingkungan. Dengan pendekatan partisipatif dan berkelanjutan, Desa Selobanteng menjadi contoh pengelolaan hutan lindung yang bisa diikuti daerah lain di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









