Umat Hindu Ikuti Eedan Puja Wali Krama di Pura Mandara Giri Semeru Agung

Umat Hindu Ikuti Eedan Puja Wali Krama di Pura Mandara Giri Semeru Agung

Perayaan Eedan Puja Wali Krama: Ritual Spiritual yang Memperkokoh Harmoni

Plat Merah – Ribuan umat Hindu dari berbagai wilayah, termasuk Bali dan Jawa Timur, menghadiri perayaan Eedan Puja Wali Krama Satunggil Warsa di Pura Mandara Giri Semeru Agung, Desa Senduro, Kabupaten Lumajang, pada 30 Juni 2026. Acara yang berlangsung secara khidmat ini merupakan bagian dari rangkaian Tawur Manca Kelud Tahun 2026, sebuah upacara besar yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Hindu dalam upaya menyelaraskan hubungan manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi.

Pura Mandara Giri Semeru Agung, yang terletak di kaki Gunung Semeru, dikenal sebagai salah satu pura Hindu terbesar di Indonesia. Sebagai pusat spiritual umat Hindu di Jawa Timur, pura ini menjadi simbol kekayaan budaya dan keberagaman keyakinan. Upacara Eedan Puja Wali Krama, yang diadakan setiap tahun, tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga wujud dari semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Koordinasi Pengamanan: Sinergi Aparat dan Masyarakat

Untuk memastikan keamanan selama acara, Polres Lumajang mengerahkan personel gabungan yang terdiri dari 150 petugas dari Polsek Senduro, Satlantas Polres, Kesbangpol Kabupaten, 15 Pecalang, dan dua anggota Satuan Keamanan Desa Senduro. Kapolres Lumajang AKBP Rizal Fitriyansyah mengatakan bahwa pengamanan dilakukan secara intensif mulai dari pukul 06.00 hingga acara selesai pada pukul 17.00.

Kesiapan pengamanan terlihat dari pembagian tugas yang strategis. Personel Satlantas mengatur lalu lintas di sekitar lokasi, sementara Polsek Senduro fokus pada pengamanan langsung di pura dan jalur masuk. Kapolsek Senduro AKP Wahono Pudji Santoso menjelaskan, “Kami menyiapkan zona aman dan jalur evakuasi darurat untuk menangani kemungkinan terburuk. Partisipasi masyarakat dalam menjaga kamtibmas sangat krusial.”

Jenis PersonelJumlahTugas
Polsek Senduro50 orangPengamanan langsung pura
Satlantas Polres30 orangPengaturan lalu lintas
Kesbangpol15 orangPengawasan keamanan masyarakat
Pecalang15 orangBantuan logistik dan pengaturan arus jemaah

Keterlibatan Multi-Regional: Umat dari Seluruh Nusantara

Peserta Eedan Puja Wali Krama berasal dari berbagai daerah. Data sementara menunjukkan bahwa 70% dari peserta adalah warga Lumajang, 20% dari Bali, dan 10% dari kota-kota besar di Jawa Timur seperti Surabaya dan Malang. Partisipasi lintas wilayah ini membuktikan bahwa Pura Mandara Giri tidak hanya menjadi pusat spiritual lokal, tetapi juga nasional.

  • Asal Peserta:
    • Lumajang: 70%
    • Bali: 20%
    • Jawa Timur (Surabaya, Malang): 10%

Kehadiran peserta dari Bali, khususnya, mencerminkan hubungan historis antara masyarakat Jawa dan Bali dalam dunia Hindu. Banyak dari mereka adalah keturunan keluarga besar yang pernah berdiaspora ke Jawa dan kembali untuk mengikuti upacara besar ini.

Signifikansi Spiritual dan Budaya

Upacara Eedan Puja Wali Krama memiliki makna mendalam dalam pandangan spiritual umat Hindu. Ritual ini dianggap sebagai wujud persembahan kepada para leluhur dan dewa-dewa Hindu, sekaligus simbol harmonisasi antara manusia dengan alam. Dalam tradisi Hindu, Semeru dianggap sebagai gunung suci yang menjadi poros kosmik, sehingga lokasi pura di kaki Gunung Semeru memperkuat makna spiritual acara ini.

Pemangku Ida Mpu Anak Agung Gede Wisnuarta, yang memimpin upacara, menjelaskan bahwa Eedan Puja Wali Krama merupakan “ritual persembahan yang melibatkan seluruh elemen kehidupan, dari bahan alam (tanah, air, tanaman) hingga doa yang diucapkan dalam bahasa suci Sanskerta.” Ia menekankan bahwa ritual ini tidak boleh dianggap sekadar formalitas, tetapi sebagai sarana introspeksi spiritual dan penguatan kemanusiaan.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Kehadiran ribuan umat Hindu di Lumajang memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. Pedagang makanan, penyewa kendaraan, dan pelaku usaha pariwisata melaporkan peningkatan pendapatan hingga 200% selama periode acara. Pemerintah Kabupaten Lumajang turut mengembangkan infrastruktur di sekitar pura, termasuk pembangunan jalan akses dan fasilitas umum seperti toilet dan tempat parkir.

Dari perspektif sosial, acara ini menjadi momentum penguatan toleransi antarumat beragama. Bupati Lumajang, Widodo, mengatakan, “Kami berharap kebersamaan yang terjalin selama acara ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam menjaga kerukunan.”

Kronologi Kegiatan

Acara Eedan Puja Wali Krama Satunggil Warsa berlangsung dalam lima tahap utama:

  1. Persiapan Alat Ritual: Pemangku dan umat mempersiapkan banten, bunga, dan sesaji sejak pukul 04.00.
  2. Prosesi Kedatangan: Umat berkumpul di pura pukul 06.00 untuk salat berjamaah dan doa pembuka.
  3. Upacara Utama: Dari pukul 09.00-11.00, dilangsungkan tawur kelud dengan pemimpin upacara Ida Mpu Wisnuarta.
  4. Bagi-Bagi Sesaji: Pukul 12.00-14.00, sesaji dibagikan kepada para jemaah sebagai simbol berkah.
  5. Penutupan: Upacara ditutup dengan doa bersama dan penutupan oleh Kapolres Lumajang.

Secara keseluruhan, perayaan ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi wadah pembelajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan manusia, sekaligus menginspirasi masyarakat untuk terus menciptakan harmoni di tengah keberagaman.

Keterlibatan aktif aparat keamanan dalam menjaga keamanan acara ini membuktikan bahwa negara tidak hanya menghormati kebebasan beragama, tetapi juga berkomitmen untuk menjaga harmoni sosial. Dengan semangat toleransi yang dijaga, Pura Mandara Giri Semeru Agung kembali menjadi simbol keagungan spiritual dan kebersamaan bangsa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup