Lomba CINTA Batik 2026 Dorong Kecamatan Jember Kembangkan Motif Khas Budaya dan Ekonomi
Latar Belakang Lomba CINTA Batik Jember 2026
Plat Merah – Sebagai bagian dari upaya melestarikan kekayaan budaya Indonesia, Pemerintah Kabupaten Jember menggelar Lomba CINTA (Ciptakan Inovasi dan Tingkatkan Apresiasi) Batik Jember 2026. Kegiatan ini melibatkan 31 kecamatan se-Kabupaten Jember, masing-masing dengan karya batik yang terinspirasi dari keunikan daerahnya. Lomba ini tidak sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi wadah penguatan identitas budaya dan penguatan ekonomi kreatif.
Peran PKK dalam Pelestarian Batik
Ketua TP PKK Kabupaten Jember, Ghyta Eka Puspita, menegaskan bahwa lomba ini bertujuan menggerakkan masyarakat, terutama kader PKK, untuk menggali potensi lokal. “Kalau bukan kita yang memperkenalkan potensi daerah, siapa lagi? Setiap kecamatan memiliki keunikan yang bisa diangkat menjadi identitas batik,” ujarnya. PKK, yang selama ini berperan dalam kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat, diharapkan menjadi ujung tombak pemberdayaan melalui keterlibatan langsung dalam pengembangan motif batik.
Keterkaitan Budaya dan Ekonomi
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Jember, Hadi Mulyono, menilai batik bukan hanya simbol budaya, tetapi juga alat penggerak perekonomian. “Kembangkan motif batik secara inovatif, maka akan tercipta peluang usaha baru sekaligus lapangan kerja,” jelasnya. Dengan penguatan industri batik di tingkat kecamatan, diharapkan UMKM lokal mampu bersaing di pasar regional hingga internasional.
Motif Batik Inspiratif dari 31 Kecamatan
Karya yang dipertandingkan mencerminkan kekayaan alam, sejarah, dan destinasi wisata masing-masing daerah. Misalnya, motif dari Kecamatan Sukowono menggambarkan keunikan taman nasional, sementara karya Kecamatan Kaliwates mengangkat warisan budaya tradisional. Dewan juri menilai karya berdasarkan orisinalitas, kesesuaian dengan identitas daerah, dan potensi komersialisasi.
| Posisi | Kecamatan | Motif Unggulan |
|---|---|---|
| 1 | Sukowono | “Harmoni Alam dan Budaya” |
| 2 | Kaliwates | “Kisah Nusantara” |
| 3 | Sumberjambe | “Kehidupan Tradisional” |
| Harapan | Ambulu | “Laut dan Perahu” |
| Harapan | Sukorambi | “Pertanian Khas Jember” |
| Harapan | Bangsalsari | “Warisan Sejarah” |
Dampak Sosial dan Ekonomi
- Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal
- Mendorong kreativitas kader PKK dalam mengemas potensi daerah
- Memperkuat identitas budaya melalui pengembangan motif khas
- Membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM batik
- Meningkatkan kunjungan wisata budaya ke Jember
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Walaupun lomba ini memberikan dampak positif, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah menjaga kualitas produksi tanpa mengorbankan keaslian motif. Selain itu, akses pasar yang terbatas bagi UKM batik menjadi hambatan. Ghyta Eka Puspita berharap, hasil lomba ini bisa menjadi katalisator bagi kolaborasi antara seniman lokal dan desainer internasional, sehingga batik Jember mampu go internasional.
Dengan terus menggali potensi daerah, Pemkab Jember optimis bisa menjadikan batik sebagai ikon budaya dan ekonomi yang berkelanjutan. “Kita harus memperkuat ekosistem kreatif, mulai dari pendidikan, akses bahan baku, hingga pemasaran,” pungkas Hadi Mulyono. Kehadiran lomba ini diharapkan menjadi momentum untuk membangun ekosistem batik yang lebih inklusif dan berdaya saing di era globalisasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.








