Moana 2026: Live-Action Remake Menuai Kontroversi, Penuh Visual Megah Namun Kehilangan Jiwa

Moana 2026: Live-Action Remake Menuai Kontroversi, Penuh Visual Megah Namun Kehilangan Jiwa

Plat Merah – Film Moana 2026 versi live-action akhirnya tayang di bioskop, membawa serta ekspektasi tinggi sebagai adaptasi dari animasi Disney tahun 2016 yang sangat dicintai. Namun, alih-alih menuai pujian, film garapan sutradara Thomas Kail ini justru mendapatkan rating rendah di Rotten Tomatoes, yakni hanya 36 persen dari kritikus. Meski demikian, film Moana 2026 tetap menjadi perbincangan hangat, terutama karena kehadiran Dwayne “The Rock” Johnson sebagai Maui dan pendatang baru Catherine Laga’aia sebagai Moana.

Dalam Moana 2026, penonton diajak mengikuti petualangan Moana, seorang remaja Polinesia yang berlayar untuk menyelamatkan bangsanya dengan mengembalikan batu hati kepada dewi Te Fiti. Bersama Maui, demigod yang angkuh, mereka menghadapi berbagai rintangan di lautan. Namun, banyak kritikus menilai bahwa film ini terlalu bergantung pada versi animasi tanpa menawarkan sesuatu yang baru. Seperti yang ditulis oleh Amy Nicholson dari Los Angeles Times, film ini “tidak pernah mempesona atau ajaib,” dan justru terasa “hanyut di lautan.”

Salah satu sorotan adalah penampilan Catherine Laga’aia yang dinilai berhasil menghidupkan karakter Moana dengan pesona alami. Namun, Dwayne Johnson sebagai Maui mendapat kritik karena dianggap kurang enerjik dibandingkan saat ia mengisi suara karakter tersebut di film animasi. Johnson yang mengenakan kostum silikon berotot justru membuat penampilannya terasa aneh di lembah uncanny. Meskipun demikian, momen pertemuan Johnson dengan bintang NFL Puka Nacua, yang juga hadir di pemutaran perdana, menunjukkan bagaimana film ini merayakan budaya Polinesia—sebuah aspek yang diapresiasi oleh Nacua, yang merupakan keturunan Polinesia.

Visual dan efek khusus menjadi kekuatan utama Moana 2026. Desain produksi yang megah serta lanskap tropis yang indah berhasil memukau mata. Namun, banyak adegan yang terasa klise dan terlalu mirip dengan versi animasi. Penggunaan green screen yang berlebihan juga mengurangi keajaiban yang seharusnya hadir dalam film petualangan laut. Sutradara Thomas Kail, yang sebelumnya sukses di teater lewat Hamilton, belum mampu menghadirkan visi sinematik yang kuat. Alih-alih menampilkan panorama luas, ia banyak menggunakan close-up yang membuat film terasa sempit.

Di sisi lain, film ini juga menjadi ajang promosi budaya Polinesia. Puka Nacua, penerima wide receiver Los Angeles Rams, menghadiri pemutaran perdana bersama ibunya dan bertemu dengan Dwayne Johnson. Bagi Nacua, film ini lebih dari sekadar hiburan; ini adalah perayaan warisan budayanya. Ia sebelumnya telah melakukan perjalanan ke Samoa bersama ibunya untuk menelusuri akar leluhur. Kehadiran Nacua di pemutaran perdana Moana 2026 menambah dimensi personal pada film yang sarat dengan elemen budaya Polinesia.

Meskipun menuai kritik, Moana 2026 tetap menjadi tontonan yang layak bagi keluarga, terutama bagi mereka yang belum pernah menonton versi animasinya. Bagi penggemar setia, film ini mungkin terasa seperti pengulangan yang tidak perlu. Namun, dengan visual yang megah dan pesan tentang keberanian serta cinta keluarga, film ini tetap memiliki daya tarik tersendiri. Sayangnya, tanpa inovasi yang signifikan, Moana 2026 hanya akan dikenang sebagai remake yang gagal menangkap esensi magis pendahulunya.

Kesimpulannya, Moana 2026 adalah film yang indah secara visual namun hampa secara emosional. Meskipun ada upaya untuk merayakan budaya Polinesia dan menghadirkan bintang-bintang besar, film ini tidak mampu menyamai keajaiban animasi 2016. Bagi yang ingin menikmati petualangan laut yang ringan, film ini mungkin cukup menghibur. Namun, bagi yang mencari kedalaman cerita dan inovasi, lebih baik menonton versi aslinya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup