Kebakaran Hutan Gunung Bromo, Komisi IV Minta Drone Pantau Titik Api Real-Time
PlatMerah.com, Pasuruan – Kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, terus meluas dan telah membakar sekitar 520 hektare lahan. Kondisi medan yang sulit dijangkau menjadi tantangan dalam upaya pemadaman.
Permintaan Pemanfaatan Drone untuk Pantauan Real-Time
Wakil Ketua Komisi IV DPR, Daniel Johan, meminta pemerintah untuk memanfaatkan teknologi drone dalam memantau titik api secara real-time. Menurutnya, penggunaan drone dapat memetakan sebaran api dengan akurat, terutama di area yang sulit dijangkau oleh tim pemadam melalui jalur darat.
“Pemantauan menggunakan drone sangat diperlukan untuk mendukung proses pemadaman, mengingat medan di kawasan Tengger sulit diakses,” ujar Daniel. Dengan data dari drone, operasi pemadaman bisa lebih sistematis dan prioritas water bombing bisa ditentukan dengan tepat.
Upaya Pemadaman dan Koordinasi Antar Lembaga
Petugas gabungan terus berupaya memadamkan api yang melanda kawasan konservasi ini. Operasi water bombing menjadi pilihan utama karena keterbatasan akses darat. Namun, Daniel juga menekankan pentingnya memperkuat koordinasi antara BNPB, BPBD, Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, dan relawan agar tidak terjadi tumpang tindih dan titik api dapat dipadamkan secara menyeluruh.
Selain itu, pemerintah pusat diminta memastikan kecukupan anggaran dan dukungan logistik untuk keselamatan personel di lapangan yang bertugas di medan yang ekstrem.
Dampak Kebakaran dan Pentingnya Pencegahan
Kebakaran yang meluas hingga 520 hektare ini tidak hanya merusak kawasan konservasi, tetapi juga berdampak pada ekonomi wisata masyarakat sekitar. Setiap hektare yang terbakar merupakan kerugian jangka panjang yang sulit dipulihkan.
Daniel mendorong evaluasi kesiapan mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan konservasi. Ia menekankan pentingnya investasi pada sistem peringatan dini berbasis drone dan satelit agar kebakaran serupa tidak terjadi berulang setiap musim kemarau, terutama dengan prediksi El Nino yang panjang tahun ini.
Kronologi Perluasan Kebakaran
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyatakan bahwa luas lahan yang terbakar meningkat dari 176 hektare menjadi 520 hektare. Perluasan area terdampak terjadi setelah api kembali berkobar pada Sabtu malam dan merambat dari tebing ke area savana Gunung Bromo. Hembusan angin kencang mempercepat penyebaran api ke berbagai titik di kawasan tersebut.
Kesimpulan
Pemanfaatan teknologi drone untuk pemantauan titik api secara real-time menjadi langkah strategis dalam mengatasi kebakaran hutan di Gunung Bromo. Diperlukan sinergi antar lembaga dan dukungan penuh pemerintah agar upaya pemadaman berjalan efektif dan risiko bagi petugas dapat diminimalisir. Pencegahan dan mitigasi kebakaran hutan juga harus diperkuat untuk menjaga kelestarian kawasan konservasi dan keberlanjutan ekonomi masyarakat sekitar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












