Gerak Cepat BGN Suspend SPPG Usai Ratusan Santri-Siswa Keracunan MBG
PlatMerah.com, Sidoarjo – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah cepat dengan menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah setelah ratusan santri dan siswa di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Perkembangan Kasus Keracunan MBG di Sidoarjo
Dugaan keracunan terjadi setelah siswa dan santri mengonsumsi MBG pada Selasa (19 September 2026), dengan gejala meliputi mual, muntah, pusing, dan diare. Awalnya, 344 siswa dan santri dari 19 sekolah melaporkan keluhan kesehatan, kemudian bertambah menjadi 431 santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang dievakuasi ke rumah sakit. Hingga Rabu (29 September 2026), Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo mencatat total 566 orang diduga mengalami keracunan, dengan 88 korban masih menjalani perawatan medis.
Penanganan dan Suspend Operasional SPPG Kalitengah
Wakil Koordinator Regional BGN Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, menyatakan bahwa pihaknya langsung mendatangi lokasi SPPG Kalitengah setelah menerima laporan dugaan keracunan. Operasional dapur SPPG Kalitengah dihentikan sementara melalui surat suspend sambil menunggu hasil investigasi lebih lanjut dari tim pusat BGN.
SPPG Kalitengah diketahui memasok makanan MBG ke 19 lembaga pendidikan di wilayah tersebut, yang kemudian melaporkan adanya kasus keracunan.
Data Korban dan Kondisi Kesehatan
Kepala Dinkes Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwanita, menyampaikan bahwa hingga Rabu, sebanyak 566 orang diduga mengalami keracunan, dengan 88 di antaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit. Tambahan 35 korban juga dirujuk ke rumah sakit pada hari yang sama. Kondisi korban yang dirawat umumnya stabil dengan gejala ringan seperti mual, muntah, dan pusing tanpa memerlukan perawatan khusus.
Evakuasi dan Penanganan Korban
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa penanganan terhadap korban dilakukan dengan cepat dan terkoordinasi oleh berbagai pihak, termasuk rumah sakit dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo. Ia membantah adanya laporan korban meninggal dunia dan memastikan banyak korban telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan.
Langkah Satgas MBG Jatim
Satgas MBG Jawa Timur juga menyiapkan penanganan bagi siswa yang absen sekolah akibat keluhan kesehatan. Paramdais siap memberikan pelayanan langsung di lokasi untuk memastikan penanganan yang tepat bagi seluruh korban.
Permintaan Maaf dari Kepala SPPG Kalitengah
Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Ia menyatakan bahwa makanan yang disalurkan telah melalui pemeriksaan organoleptik oleh pihak sekolah dan menolak kabar adanya belatung dalam makanan. Menu MBG yang dibagikan terdiri dari nasi, telur orak-arik, tumis sayur buncis, dan tempe bumbu Bali, yang didistribusikan sekitar pukul 11.00 WIB dan dapat bertahan hingga empat jam setelah pengiriman.
Penyebab Keracunan Masih Diselidiki
Dinkes Sidoarjo masih melakukan penyelidikan penyebab pasti keracunan dengan mengambil sampel muntahan korban dan bahan makanan untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Surabaya. Hasil pemeriksaan ini menjadi kunci untuk menentukan langkah selanjutnya terkait prosedur operasional dan kualitas makanan.
Regulasi dan Pengawasan SPPG di Sidoarjo
Bupati Sidoarjo Subandi menyampaikan bahwa dari 170 unit SPPG di wilayahnya, 31 unit belum mengantongi izin operasional lengkap dan diminta untuk menghentikan aktivitas sementara. Ia menekankan pentingnya pengelolaan yang baik agar program MBG dapat berjalan sesuai tujuan tanpa mengganggu kesehatan penerima manfaat.
Pengalaman Korban Keracunan
Salah satu korban, Muhammad Reyhan, siswa kelas 7 di Ponpes Manbaul Hikam, menceritakan gejala pusing dan mual yang dialaminya setelah mengonsumsi MBG. Ia mulai merasakan keluhan sekitar pukul 06.00 WIB keesokan harinya dan kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Kesimpulan
Kejadian dugaan keracunan MBG di Kabupaten Sidoarjo telah mendapat respons cepat dari Badan Gizi Nasional dan instansi terkait dengan penghentian operasional dapur penyedia, penanganan medis bagi korban, serta investigasi penyebab. Penanganan dan pengawasan ketat diharapkan dapat mencegah kejadian serupa di masa depan dan memastikan keamanan program MBG yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak sekolah dan santri.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









