Peringkat Kredit Indonesia Dipertahankan S&P di Tengah Beragam Sinyal Ekonomi Global
Plat Merah – Peringkat kredit Indonesia kembali menjadi sorotan setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil. Keputusan ini di tengah dinamika peringkat global yang juga mencakup sektor olahraga, seperti kenaikan peringkat Spanyol ke posisi teratas FIFA, serta peringkat kelayakhunian kota-kota di China yang meningkat signifikan.
S&P menilai fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga, meskipun terdapat sejumlah tantangan. Lembaga pemeringkat tersebut menekankan pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah untuk mempertahankan kepercayaan investor. Hal ini sejalan dengan komentar Research Director Prasasti Center for Policy Studies, Adhi Nugroho Saputro, yang menyatakan bahwa peringkat yang dipertahankan bukan berarti semua persoalan selesai. “Peringkat yang dipertahankan tidak berarti persoalan selesai dan indikator yang melemah tidak otomatis berarti krisis. Yang kita hadapi adalah kombinasi keduanya,” ujarnya.
Sementara itu, di kancah sepak bola, peringkat FIFA terbaru menempatkan Spanyol di posisi pertama setelah sukses melaju ke final Piala Dunia 2026. Spanyol menggeser Prancis dengan total poin 1965,61. Argentina berada di peringkat ketiga, disusul Inggris di posisi keempat. Di Asia Tenggara, Indonesia masih bertengger di peringkat 118, di bawah Thailand (94) dan Vietnam (99).
Dalam sektor voli, Timnas Voli Putra Indonesia memulai misi mempertahankan gelar di SEA V Cup 2026. Turnamen ini tidak hanya memperebutkan trofi, tetapi juga poin peringkat dunia FIVB yang krusial. Indonesia tergabung di Pool B bersama Filipina dan Kamboja, dan dijadwalkan memulai leg pertama di Candon City, Filipina, pada 15-19 Juli 2026.
Di sisi lain, Economist Intelligence Unit (EIU) merilis Global Liveability Index 2026 yang menunjukkan dominasi kota-kota China dalam kenaikan peringkat kelayakhunian terbesar. Fuzhou mencatat kenaikan tertinggi, naik tujuh posisi ke peringkat 93. Indeks ini menilai 173 kota berdasarkan stabilitas, layanan kesehatan, budaya, pendidikan, dan infrastruktur.
Kembali ke Indonesia, meskipun peringkat kredit dipertahankan, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tekanan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Mei 2026 sebesar US$ 1,61 miliar, defisit pertama sejak April 2020. PMI manufaktur juga turun ke level 46,9 pada Juni 2026, menandakan kontraksi. Namun, pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 mencapai 5,61% secara tahunan, tertinggi untuk kuartal pertama sejak 2013. Cadangan devisa Juni 2026 sebesar US$ 145,6 miliar setara 5,5 bulan impor, dan inflasi masih dalam kisaran sasaran Bank Indonesia.
Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai defisit perdagangan lebih banyak dipicu lonjakan impor energi. Sektor migas mencatat defisit US$ 3,76 miliar, sementara nonmigas surplus US$ 2,15 miliar. Inflasi yang naik menjadi 3,34% dinilai bersifat sementara dan bukan struktural. “Kalau kita bedah, karakter inflasi kita lebih banyak didorong sisi pasokan dan faktor musiman, bukan karena permintaan domestik yang membludak. Inflasi inti kita tetap rendah,” jelas Piter.
Dengan beragam peringkat yang dirilis di berbagai sektor, Indonesia perlu menjaga konsistensi kebijakan untuk mempertahankan peringkat kredit dan daya saing global. S&P menegaskan bahwa upaya peningkatan penerimaan negara dan ekspor akan lebih efektif jika arah kebijakan dapat diprediksi dan diimplementasikan secara konsisten. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk memastikan fundamental ekonomi tetap kuat di tengah ketidakpastian global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













