Ketergantungan Batubara Jadi Tantangan Sumsel, Ekonomi Alternatif Diminta Disiapkan Sejak Dini

Ketergantungan Batubara Jadi Tantangan Sumsel, Ekonomi Alternatif Diminta Disiapkan Sejak Dini

PlatMerah.com, Palembang – Ketergantungan Sumatera Selatan (Sumsel) terhadap sektor batubara menjadi tantangan utama dalam menghadapi transisi energi. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada produksi dan ekonomi daerah, tetapi juga pada penggunaan lahan, lapangan pekerjaan, serta kehidupan masyarakat di wilayah penghasil batubara.

Produksi Batubara di Sumsel dan Ketergantungan Ekonomi

Sumsel merupakan salah satu penghasil batubara terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai sekitar 120,74 juta ton pada 2025 dan cadangan diperkirakan sekitar 18,13 miliar ton. Posisi ini menunjukkan dominasi batubara dalam struktur ekonomi daerah, di mana sektor pertambangan menyumbang sekitar 17 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sumsel.

Namun, ketergantungan ini menimbulkan risiko bagi perekonomian daerah, terutama apabila terjadi fluktuasi harga atau penurunan aktivitas pertambangan. Beberapa kabupaten penghasil batubara seperti Lahat dan Muara Enim memiliki ketergantungan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap batubara lebih dari 70 persen, lebih tinggi dibandingkan tingkat provinsi secara umum.

Dampak Ketergantungan Batubara bagi Masyarakat dan Lingkungan

Tingginya ketergantungan ekonomi terhadap batubara berpotensi menimbulkan dampak negatif, antara lain:

  • Penurunan penerimaan pemerintah daerah saat harga batubara anjlok, seperti yang terjadi pada 2018.
  • Perubahan penggunaan lahan dari pertanian dan perkebunan menjadi area pertambangan, mengurangi sumber penghidupan masyarakat tradisional.
  • Risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) massal ketika aktivitas pertambangan menurun, yang tanpa adanya sektor ekonomi alternatif siap menyerap tenaga kerja, menyebabkan hilangnya sumber penghasilan masyarakat.

Persiapan Transformasi Ekonomi dan Pengembangan Ekonomi Alternatif

Koordinator Proyek IKI-JET Yayasan Mitra Hijau, Dicky Edwin Hindarto, menekankan pentingnya menyiapkan transformasi ekonomi di wilayah penghasil batubara sejak dini. Transformasi ini tidak hanya sebatas penggantian sumber energi, tetapi juga memastikan masyarakat dan ekonomi lokal memiliki kapasitas untuk beradaptasi dan berkembang.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses transformasi ekonomi adalah:

  • Pengembangan sektor ekonomi alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap batubara.
  • Kebijakan dan program konkret untuk mengantisipasi risiko kehilangan pekerjaan, ketimpangan ekonomi, serta kerusakan lingkungan pascatambang.
  • Pelibatan masyarakat, tenaga kerja, kelompok perempuan, generasi muda, dan pelaku ekonomi lokal dalam proses perencanaan dan pelaksanaan transformasi.

Konteks dan Upaya Mendukung Transisi Energi Berkeadilan

Diskusi dan diseminasi dokumen kebijakan hasil Dialog Kebijakan Nasional tentang Transformasi Ekonomi di Wilayah Penghasil Batubara Sumsel merupakan bagian dari rangkaian Innovation Regions for a Just Energy Transition (IKI-JET). Kegiatan ini bertujuan memperkuat perencanaan partisipatif dan dialog multipihak dalam mendukung transisi energi yang berkeadilan, sehingga perubahan struktur ekonomi tidak meninggalkan masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor batubara.

Dengan langkah-langkah tersebut, Sumsel diharapkan dapat menghadapi tantangan ketergantungan batubara dan membangun ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup