Video Viral Ibu Tampar Anak 6 Tahun Saat Antar Belanjaan, Dunia Tenis Juga Heboh Soal Protes Hadiah
Plat Merah – Sebuah video yang beredar luas di media sosial menunjukkan seorang ibu di Florida, Amerika Serikat, menampar anaknya yang berusia 6 tahun karena kesulitan membawa pesanan belanjaan. Kejadian ini terekam kamera CCTV dan memicu kemarahan publik. Dalam video tersebut, Kiah Lowery (36) terlihat marah-marah dan memaki anaknya saat sang anak berjuang membawa dus berisi 24 botol air mineral seberat 26 pon, sementara berat badan anak hanya 49 pon. Sang anak terjatuh dan botol-botol berserakan, lalu Lowery menampar wajahnya. Polisi setempat kemudian menangkap Lowery dan menjeratnya dengan tuduhan penganiayaan anak.
Sementara itu, di dunia tenis, para pemain top seperti Aryna Sabalenka, Jannik Sinner, dan Coco Gauff melakukan aksi protes dengan membatasi wawancara media hanya 15 menit di Wimbledon. Mereka menuntut peningkatan bagian pendapatan turnamen Grand Slam untuk hadiah, pensiun, dan cuti melahirkan. Sabalenka menyatakan harapannya agar aksi boikot tidak perlu terjadi lagi, karena perjuangan ini demi pemain peringkat bawah yang kesulitan membiayai pelatih. Wimbledon telah menaikkan total hadiah 20% menjadi £64,2 juta, namun para pemain menganggapnya belum cukup.
Di ajang Formula 1, George Russell berhasil merebut posisi terdepan (pole) di Grand Prix Austria berkat pemikiran cepatnya saat menghadapi bendera kuning akibat kecelakaan Max Verstappen. Russell hanya mengurangi kecepatan secukupnya tanpa merusak putarannya, sementara pembalap lain terlalu lambat. Keputusan ini menuai pertanyaan karena petugas lomba terlambat mengibarkan bendera kuning ganda. Video momen tersebut menjadi sorotan para penggemar F1.
Sementara itu, video musik terbaru dari BR33Z WORLD berjudul “Call Me Right Back” baru saja dirilis. Video tersebut menampilkan visual yang memukau dan alunan musik yang catchy. Di sisi lain, beredar klip viral tentang ciuman klavikula antara seorang wanita transgender yang memicu perdebatan. Setelah ditelusuri, klaim tersebut ternyata hoaks dan tidak memiliki dasar fakta yang kuat.
Dari berbagai peristiwa ini, terlihat bahwa video memiliki peran sentral dalam menyebarkan informasi sekaligus memicu kontroversi. Video penganiayaan anak di Florida menjadi bukti kekuatan rekaman dalam mengungkap kejahatan. Video protes pemain tenis menunjukkan bagaimana aksi kolektif dapat disuarakan melalui media. Video momen krusial di F1 mengabadikan strategi jenius seorang pembalap. Dan video musik menjadi sarana ekspresi seni. Semua ini mengingatkan kita bahwa di era digital, video bukan sekadar tontonan, melainkan alat yang mampu menggerakkan opini publik dan perubahan sosial.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












