Haedar Nashir Tegaskan Pers Sebagai Penjaga Kebenaran di Era Disrupsi Media Sosial
PlatMerah.com, Tangerang Selatan – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa pers harus tetap menjadi penjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial yang kian masif. Pernyataan ini disampaikan saat Haedar memberikan Orasi Kebangsaan dalam rangka Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah Tahun 2026 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).
Peran Pers dan Literasi di Era Digital
Haedar Nashir mengingatkan bahwa perubahan besar terjadi dalam dunia media saat ini. Dulu, setiap tulisan yang dipublikasikan harus melewati proses seleksi ketat, bahkan kata per kata diperiksa. Kini, siapa saja dapat menyebarkan informasi melalui media sosial tanpa proses verifikasi yang memadai.
Menurutnya, kebebasan berekspresi harus diimbangi dengan tanggung jawab moral dan etika. Informasi yang disebarkan bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga ada dimensi baik dan buruk, serta pantas dan tidak pantas disampaikan di ruang publik.
Pers sebagai Pilar Demokrasi
Haedar menegaskan posisi pers sebagai pilar keempat negara yang memiliki kekuatan dalam menghadirkan informasi alternatif dari berbagai kekuatan yang ada. Pers bertugas tidak hanya menyampaikan informasi tetapi juga mengawasi jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia mengutip teori sosiologi Erving Goffman tentang konsep “front stage” dan “back stage” untuk menjelaskan pentingnya kerja jurnalistik dalam mengungkap realitas sesungguhnya yang sering tersembunyi di balik penampilan atau polesan di panggung depan.
Pengalaman dan Dedikasi Haedar Nashir dalam Dunia Jurnalistik
Haedar yang mengawali kariernya sebagai wartawan menceritakan perjalanan panjang belajar menulis yang penuh tantangan, mulai dari mengalami penolakan hingga harus menghadapi koreksi keras dari editor. Pengalaman ini membentuk sikap ketelitian dan tanggung jawab dalam menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas.
Ia juga menerima Kartu Wartawan Utama Kehormatan dari Dewan Pers sebagai penghargaan atas kontribusinya di bidang jurnalistik dan literasi, yang menurutnya merupakan pengakuan atas jejak panjangnya sebagai wartawan, bukan semata karena posisinya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Pentingnya Literasi di Era Kecerdasan Buatan dan Media Sosial
Dalam orasinya, Haedar menyoroti pentingnya membangun budaya literasi dan berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah terjebak oleh informasi menyesatkan di media sosial dan era kecerdasan buatan.
Ia mengaitkan tradisi literasi dalam Islam yang lahir dengan perintah “iqra” sebagai tradisi literasi profetik yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
Seruan untuk Menjaga Arah Bangsa dan Keadilan Sosial
Haedar mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk insan pers, akademisi, tokoh agama, dan pemerintah, untuk menjaga arah perjalanan bangsa agar tetap sesuai dengan cita-cita konstitusi, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945.
Ia juga mengingatkan pentingnya mendengarkan suara masyarakat sejak awal proses pengambilan kebijakan publik agar suara kebenaran dan kebaikan tidak terabaikan.
Selain itu, Haedar mengajak kelompok dengan kekuatan ekonomi dan politik untuk menggunakan pengaruhnya demi memperkuat keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menegaskan bahwa cita-cita berbangsa dan bernegara sesungguhnya sangat sederhana namun mendalam.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













