Gencatan Senjata Iran Runtuh, Trump Ancam Serangan Baru

Gencatan Senjata Iran Runtuh, Trump Ancam Serangan Baru

Plat Merah – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata yang rapuh telah berakhir. Dalam pernyataan yang disampaikan di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, Trump menegaskan bahwa negosiasi dengan Iran hanya membuang-buang waktu dan negaranya siap melancarkan serangan baru. Pasar global dan harga minyak langsung bereaksi, melonjak tajam setelah pernyataan tersebut.

Konflik yang dipicu oleh serangan Israel dan AS terhadap Iran pada awal tahun ini, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi, kini memasuki babak baru. Iran membalas dengan serangan ke Israel dan wilayah Teluk, serta menguasai Selat Hormuz, jalur vital pasokan minyak dan gas global. Kelompok Hizbullah di Lebanon juga ikut terlibat dengan meluncurkan roket ke Israel, yang kemudian memicu invasi Israel ke Lebanon selatan.

Setelah periode gencatan senjata singkat selama dua minggu, ketegangan kembali memuncak ketika Iran menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. AS merespons dengan melancarkan serangan terhadap hampir 100 target di Iran. Trump mengonfirmasi bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas pelanggaran gencatan senjata oleh Iran. “Kami memukul mereka sangat keras tadi malam,” kata Trump. “Kami mungkin akan memukul mereka lagi malam ini.”

Menurut laporan, serangan balasan Iran menargetkan instalasi militer AS di Bahrain dan Kuwait. Trump juga mengancam akan menyerang infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik dan pabrik desalinasi, serta merebut Pulau Kharg yang menjadi pusat fasilitas minyak Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran akan pecahnya perang skala penuh yang dapat melibatkan seluruh kawasan Timur Tengah, serta mengganggu pasokan energi global.

Sementara itu, di tengah eskalasi militer, nasib warga sipil juga menjadi sorotan. Pasangan asal Inggris, Craig dan Lindsay Foreman, yang ditahan di Iran atas tuduhan mata-mata sejak Januari 2025, terus menjalani hukuman 10 tahun penjara. Mereka melakukan mogok makan untuk memprotes kondisi penjara yang buruk. Lindsay dikabarkan kehilangan 14 kg dan menderita vertigo parah, sementara suaminya kehilangan 16 kg. Putra mereka, Joe Bennett, mendesak pemerintah Inggris untuk terus menekan Iran melalui jalur diplomatik.

Dengan pernyataan Trump yang menyebut gencatan senjata “berakhir”, masa depan negosiasi damai semakin tidak menentu. Analis memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan akan berdampak buruk tidak hanya bagi Iran dan Israel, tetapi juga bagi stabilitas kawasan Teluk dan perekonomian global. Harga minyak yang meroket menjadi indikasi awal bahwa dunia harus bersiap menghadapi ketidakpastian baru.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup