Badai Dahsyat dan Gelombang Panas Ekstrem Ancam Dunia pada 2026, Ilmuwan Peringatkan Dampak Climate Change Semakin Nyata

Badai Dahsyat dan Gelombang Panas Ekstrem Ancam Dunia pada 2026, Ilmuwan Peringatkan Dampak Climate Change Semakin Nyata

Plat Merah – Perubahan iklim atau climate change telah menjadi ancaman nyata yang dirasakan di berbagai belahan dunia pada tahun 2026. Para ilmuwan memperingatkan bahwa frekuensi dan intensitas bencana alam seperti badai tropis, gelombang panas, dan banjir akan terus meningkat, menguji ketahanan infrastruktur dan masyarakat di berbagai negara.

Di China, Badan Iklim Nasional memperkirakan hingga enam topan akan terbentuk di Pasifik Barat Laut dan Laut China Selatan pada Juli 2026, jauh di atas rata-rata historis 3,8 topan. Dari jumlah tersebut, tiga diprediksi akan mencapai daratan, sementara rata-rata normal hanya 1,8. Intensitas siklon juga diprediksi lebih kuat. Super Topan Bavi, dengan diameter lebih dari 1.000 km dan kecepatan angin melebihi 290 km/jam, diperkirakan akan melanda China pada akhir pekan ini, menyusul Topan Maysak yang sebelumnya telah menyebabkan banjir besar di Provinsi Hainan dan Guangxi. Sisa-sisa Maysak bahkan memicu tornado di China tengah. Benjamin Horton, Dekan School of Energy and Environment di City University of Hong Kong, menegaskan bahwa masalah utama adalah peningkatan frekuensi kejadian ekstrem ini akibat climate change.

Sementara itu, Inggris Raya dilanda gelombang panas ketiga musim panas ini, dengan suhu mencapai 35-36°C di beberapa wilayah. Menurut Copernicus Climate Change Service (C3S), Juni 2026 merupakan bulan Juni terpanas yang pernah tercatat di Eropa Barat dan terpanas kedua secara global. Suhu rata-rata di Eropa Barat mencapai 20,74°C, atau 3,05°C di atas normal 1991-2020. Di Inggris, rekor nasional baru tercatat dengan suhu 37,7°C di Lingwood, Norfolk. Samantha Burgess, pimpinan strategis iklim di ECMWF, memperingatkan bahwa climate change menyebabkan gelombang panas yang semakin sering dan parah, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kekeringan.

Di Amerika Serikat, korban banjir di Vermont pada 2023 dan 2024 memberikan kesaksian di hadapan Senator Peter Welch dan Anggota Kongres Becca Balint. Mereka mengeluhkan proses panjang dan sulit untuk mendapatkan bantuan dari FEMA. Lauren Geiger, warga Plainfield, mendesak agar FEMA berfungsi lebih efisien mengingat semakin seringnya bencana akibat climate change. Sebuah dana hibah kongres senilai $63 juta akan digunakan untuk membangun 400 unit perumahan baru bagi komunitas terdampak banjir.

Menghadapi ancaman El Nino super yang diprediksi akan memicu gelombang panas, banjir, dan kekeringan global, para peneliti dari University of Chicago mengusulkan solusi kontroversial: teknologi geoengineering berupa pencerahan awan buatan (marine cloud brightening) di Samudra Pasifik. Studi yang diterbitkan di Science Advances pada 8 Juli 2026 menunjukkan bahwa dengan mencerahkan awan di zona ekuator Pasifik, efek El Nino dapat dinetralisir. Namun, metode ini masih bersifat simulasi dan memiliki risiko yang belum sepenuhnya dipahami.

Di sisi lain, industri energi nuklir global diprediksi akan meningkatkan produksi sebesar 44% dalam 10 tahun ke depan sebagai respons terhadap kebutuhan energi rendah karbon. Meskipun artikel terkait tidak memberikan detail lebih lanjut, langkah ini menunjukkan upaya mitigasi climate change melalui diversifikasi sumber energi.

Kesimpulannya, tahun 2026 menjadi saksi betapa nyatanya dampak climate change. Dari badai dahsyat di Asia, gelombang panas ekstrem di Eropa, hingga banjir bandang di Amerika Serikat, semua menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang harus dihadapi sekarang. Upaya adaptasi dan mitigasi, termasuk teknologi inovatif dan kebijakan energi, menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan melindungi masyarakat global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup