Iran Digempur AS Enam Malam Beruntun, Bandara dan Jembatan Jadi Sasaran
Plat Merah – Iran kembali menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat (AS) untuk malam keenam berturut-turut pada Kamis (16/7/2026). Serangan terbaru ini membidik sejumlah infrastruktur vital di wilayah selatan Iran, termasuk bandara, stasiun kereta api, dan jembatan. Eskalasi ini terjadi di tengah blokade maritim yang diperketat AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Menurut laporan media pemerintah Iran, rudal AS menghantam bandara di Iranshahr, menara komunikasi di Bandar Abbas, serta dua jembatan di Provinsi Hormozgan. Serangan tersebut mengakibatkan terputusnya aliran listrik di beberapa area dan menewaskan sedikitnya tujuh orang. Stasiun kereta api di Bandar Abbas juga dilaporkan terkena serangan.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan bahwa operasi militer ini bertujuan untuk “lebih lanjut melemahkan kemampuan militer Iran”. Sebagai bagian dari strategi tersebut, pasukan AS telah menaiki kapal tanker M/T Wen Yao di Teluk Oman untuk memastikan kepatuhan penuh terhadap blokade yang diberlakukan awal pekan ini. Sehari sebelumnya, pesawat AS menembak dan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak yang mencoba menerobos blokade.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke arah Qatar, Bahrain, dan Kuwait. Otoritas Qatar memperingatkan warga untuk berlindung saat rentetan rudal Iran menghujani negara itu. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan pesawat tempur AS yang ditempatkan di Yordania. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 38 orang tewas akibat serangan AS sejak gencatan senjata bulan lalu.
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Pada April lalu, Trump juga menyatakan bahwa AS dapat mengebom jembatan dan pembangkit listrik Iran. Kini, kedua pihak saling menuduh melanggar nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani bulan lalu.
Ketegangan di Selat Hormuz semakin memanas. Jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini nyaris lumpuh akibat pertempuran sengit. Blokade AS terhadap pelabuhan Iran semakin memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran. Beberapa kapal tanker LPG yang terkait dengan Iran dilaporkan berbalik arah karena blokade diperketat.
Serangan terhadap jembatan di Bandar-e Khamir menandai peningkatan eskalasi konflik. Sebelumnya, serangan hanya menyasar target militer. Dengan menyasar infrastruktur sipil, AS menunjukkan keseriusannya untuk melumpuhkan Iran secara ekonomi dan militer.
Konflik ini menimbulkan kekhawatiran global akan stabilitas kawasan Timur Tengah. Harga minyak dunia melonjak dan pasar saham global bergejolak. India, yang bergantung pada minyak dari kawasan Teluk, mengalami kenaikan indeks saham karena investor beralih ke aset aman.
Iran dan AS saat ini berada di ambang perang terbuka. Gencatan senjata yang rapuh telah hancur, dan tidak ada tanda-tanda de-eskalasi dalam waktu dekat. Masyarakat internasional mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan kembali berunding, namun ancaman serangan balasan terus bergema.
Dengan serangan enam malam berturut-turut, Iran berada dalam tekanan maksimal. Blokade laut dan serangan udara bertujuan untuk memaksa Iran menyerah pada tuntutan AS. Namun, Iran menunjukkan perlawanan dengan meluncurkan rudal ke negara-negara tetangga. Situasi ini mengingatkan pada perang teluk sebelumnya, namun dengan skala yang lebih luas dan dampak yang lebih dahsyat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













