9.668 Kasus ISPA Muncul Usai Gempa NTT, Kemenkes Ungkap Kondisi Warga di Pengungsian
PlatMerah.com, Nusa Tenggara Timur – Kementerian Kesehatan mencatat 9.668 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang muncul di wilayah terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak 15 hingga 26 Agustus 2026. Kasus ISPA ini menjadi keluhan kesehatan terbanyak di antara warga yang masih bertahan di pengungsian.
Distribusi Kasus ISPA dan Penyakit Lain
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menyampaikan bahwa kasus ISPA tersebar di tujuh kabupaten terdampak gempa. Selain ISPA, sejumlah penyakit lain juga telah tercatat di kalangan warga pengungsian, antara lain:
- Hipertensi: 4.686 kasus
- Myalgia: 1.017 kasus
- Trauma: 662 kasus
- Diare: 627 kasus
- Gastritis: 571 kasus
- Dispepsia: 487 kasus
- Diabetes: 392 kasus
- Penyakit kulit: 347 kasus
- Low back pain: 283 kasus
Selain itu, ditemukan 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Nagekeo, di mana seluruh korban telah menerima vaksinasi lengkap.
Kondisi Pengungsian dan Tantangan Kesehatan
Lebih dari 185 ribu warga masih menempati 444 titik pengungsian. Kepadatan di tempat tinggal sementara tersebut meningkatkan risiko penyebaran penyakit, sehingga layanan kesehatan terus diperkuat agar masalah kesehatan tidak meluas. Fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan akibat gempa telah mendorong pengalihan pelayanan medis ke lokasi yang lebih aman.
Upaya Pemerintah dalam Penanganan Kesehatan
Pemerintah telah mengerahkan 392 tenaga kesehatan untuk membantu warga terdampak. Dua rumah sakit lapangan berbasis tenda inflatable didirikan, yaitu di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, dan RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, sebagai alternatif pelayanan medis yang aman dan efektif.
Agus Jamaludin menegaskan pentingnya pemindahan layanan kesehatan dari bangunan yang rusak agar keselamatan pasien dan tenaga medis tetap terjamin.
Pentingnya Penanganan Kesehatan Pasca-Bencana
Penanganan kesehatan yang cepat dan tepat di pengungsian sangat krusial untuk mengurangi dampak kesehatan akibat bencana gempa. Kasus ISPA yang dominan menandakan kebutuhan akan peningkatan fasilitas dan layanan kesehatan, serta perhatian khusus terhadap kondisi lingkungan pengungsian.
Selain itu, pemantauan dan penanganan penyakit lain juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga kesehatan masyarakat pasca-bencana.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













