Es Kopi Tape Jadi Menu Baru Bondowoso, Inovasi Kuliner yang Menggabung Tradisi dan Modernitas
Latar Belakang Es Kopi Tape Bondowoso
Plat Merah – Bondowoso, sebuah kota di Jawa Timur yang terkenal sebagai “Republik Kopi”, kembali menunjukkan kreativitasnya dalam dunia kuliner. Inovasi terbaru berupa Es Kopi Tape atau E-Kotang lahir dari sinergi antara Komunitas Barista Class Bondowoso dan tradisi kuliner lokal. Minuman ini menggabungkan kopi specialty Bondowoso dengan tapay ngambeng, makanan tradisional yang telah menjadi ikon daerah sejak abad ke-19. Pengenalan menu ini dilakukan saat Festival Muharram 2026, sebuah event tahunan yang selalu menjadi ajang promosi budaya dan pariwisata lokal.
Proses Pengembangan E-Kotang
Ketua Komunitas Barista Class Bondowoso, Ahmad Sofyan, mengungkapkan bahwa ide cipta ini bermula dari diskusi antar-barista tentang potensi kopi Bondowoso yang belum dimaksimalkan. “Kami ingin menciptakan sesuatu yang unik namun tetap mengakar pada budaya setempat,” ujarnya. Proses pengembangan berlangsung selama 6 bulan, melibatkan uji coba rasa, eksperimen teknik penyeduhan, dan konsultasi dengan ahli gizi untuk memastikan kombinasi kopi dan tape tidak mengurangi nutrisi masing-masing bahan.
Strategi Nama dan Branding
Pemilihan nama “E-Kotang” sengaja dihadirkan sebagai permainan kata yang mudah diingat. Kata “E” mengacu pada es, sementara “Kotang” berasal dari bahasa lokal yang berarti lezat atau nikmat. Strategi ini dinilai efektif karena menggabungkan unsur jenaka (kelakar) dengan profesionalisme. Selain itu, nama ini juga dirancang untuk menarik perhatian generasi milenial yang lebih menyukai produk dengan nuansa modern namun tetap menghargai akar budaya.
Proses Pembuatan dan Komposisi
Tabel berikut menjelaskan detail teknis pembuatan E-Kotang:
| Bahan Utama | Spesifikasi |
|---|---|
| Kopi Bondowoso | Blended Arabika, medium roast, grade 1 |
| Tape Singkong | Tapay ngambeng (fermentasi alami selama 48 jam) |
| Pengolah | Barista bersertifikasi dengan pengalaman minimal 2 tahun |
| Waktu Penyajian | 15-20 menit per pesanan |
Dampak Sosial dan Ekonomi
Launcing Es Kopi Tape berpotensi menggerakkan sektor UMKM lokal. Komunitas Barista Class bekerja sama dengan 12 pengrajin tape tradisional di sekitar Kalitapen dan Klabang. Dari sisi pariwisata, keberadaan menu ini diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan muda yang biasanya lebih tertarik pada inovasi kuliner. Pemerintah Kabupaten Bondowoso telah menyatakan dukungan melalui program “Bondowoso Creative Industry 2027-2030” yang menyediakan insentif bagi pelaku usaha kreatif.
Respon Masyarakat
- 58% responden survei menyatakan akan mengunjungi Bondowoso khusus untuk mencicipi E-Kotang
- 75% pembeli adalah usia 18-35 tahun
- 85% pelanggan mengulang pembelian dalam waktu 2 minggu
Kontribusi bagi Budaya Lokal
E-Kotang tidak hanya sekadar menu baru, tetapi juga menjadi media pendidikan budaya. Topengkona Coffee Roastery, salah satu outlet penjualan, mengadakan workshop mingguan yang mengajarkan proses fermentasi tape tradisional dan teknik penyeduhan kopi. “Kami ingin generasi muda memahami bahwa kopi dan tape bukan sekadar makanan, tapi cermin identitas Bondowoso,” ujar Sofyan.
Kemungkinan Tantangan dan Peluang
Meski respon awal positif, ada tantangan yang perlu diatasi:
- Fluktuasi pasokan kopi specialty akibat musim
- Ketergantungan pada pengrajin tape tradisional yang jumlahnya terbatas
- Kompetisi dengan kafe-kafe modern di Surabaya dan Malang
Untuk mengatasi ini, komunitas akan mengembangkan varian rasa (es kopi tape durian, tape pisang) dan menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan kuliner di Surabaya.
Es Kopi Tape kini menjadi ikon baru Bondowoso yang membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari tradisi. Dengan potensi 10.000 konsumen bulanan, produk ini tidak hanya memperkaya pilihan kuliner, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan ekonomi kreatif di kota ini. Minuman yang “bikin happy” ini memang layak ditemani dengan senyum lebar, baik saat menikmatinya di ketinggian Kalitapen atau saat menjelajah kebun kopi di lereng Ijen yang berbatasan dengan Bondowoso.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







