Reformasi Birokrasi Digital: Wali Kota Medan Ultimatum Camat, ASN Muda Jadi Motor Perubahan

Reformasi Birokrasi Digital: Wali Kota Medan Ultimatum Camat, ASN Muda Jadi Motor Perubahan

Plat Merah – Transformasi digital di tubuh aparatur sipil negara (ASN) terus digencarkan di berbagai daerah. Di Medan, Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas memberikan ultimatum kepada seluruh camat untuk segera menuntaskan digitalisasi data penerima bantuan sosial (bansos) melalui Portal Perlinsos. Langkah ini merupakan bagian dari reformasi birokrasi yang menuntut ASN digital agar mampu bekerja cepat, transparan, dan akuntabel.

Dalam rapat koordinasi di Balai Kota Medan, Kamis (9/7/2026), Rico Waas mengungkapkan bahwa baru 1,75 persen atau 13.944 kepala keluarga dari total 795.881 KK yang terdata dalam sistem digital. Ia menegaskan bahwa para camat harus bekerja serius dan melakukan update data setiap hari. “Setiap wilayah harus punya target mandiri dan camat wajib melakukan update data Perlinsos setiap hari agar target terus diingat,” tegasnya.

Merespons hal tersebut, para camat menyepakati tenggat waktu 1 hingga 1,5 bulan untuk merampungkan pendataan. Sekda Kota Medan, Wiriya Alrahman, mengunci komitmen tersebut dan meminta Dinas Sosial menugaskan ASN khusus untuk memantau pergerakan di lapangan. Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Khoiruddin Rangkuti, menambahkan bahwa digitalisasi ini mengatasi masalah kesalahan inklusi dan eksklusi yang kerap terjadi dalam penyaluran bansos.

Sementara itu, semangat ASN digital juga terlihat di Kementerian Pertanian. Dalam Seminar Laporan Aktualisasi Pelatihan Dasar CPNS yang digelar secara daring pada 9 Juli 2026, sembilan peserta dari berbagai provinsi mempresentasikan inovasi pelayanan publik. Dr. Muh Khamdan, Widyaiswara Bapelkum Semarang, menekankan bahwa aktualisasi bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan proses membangun budaya inovasi. “ASN masa depan dituntut tidak hanya mampu bekerja sesuai prosedur, tetapi juga berani menghadirkan solusi,” ujarnya.

Inovasi yang ditampilkan antara lain penyediaan data sifat kimia tanah sawah oleh Iftian Oktaviani dari Sumatera Barat, Pojok Benih Digital oleh Novita Eka Safitri dari Bali, dan database digital lahan sawah berbasis poligon oleh Yulian Kusuma Ari Setiadi dari NTT. Semua ini menunjukkan bahwa transformasi ASN digital tidak hanya terjadi di tingkat pusat, tetapi juga di daerah.

Di sisi lain, data dari Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menunjukkan bahwa komposisi ASN kini didominasi oleh generasi milenial. Dari total 7.352 ASN, sebanyak 4.812 orang adalah milenial. Kepala BKPSDM KSB, Agusman, menilai hal ini sebagai keuntungan karena membawa semangat inovasi dan adaptasi teknologi. “ASN muda menjadi kekuatan baru birokrasi. Tantangannya adalah meningkatkan kompetensi dan profesionalisme,” katanya.

Namun, di tengah optimisme transformasi digital, masih ada sisi kelam yang perlu diwaspadai. Kasus pembunuhan terhadap Ruly Yunis Setiawati, ASN di Bangkalan, yang diduga melibatkan rekan sesama ASN, menjadi pengingat bahwa integritas dan etika harus tetap dijunjung tinggi. Hingga berita ini diturunkan, polisi masih memburu terduga pelaku.

Kesimpulannya, digitalisasi ASN merupakan keniscayaan yang harus diiringi dengan penguatan integritas dan profesionalisme. Dari Medan hingga KSB, semangat ASN digital mulai terlihat, namun masih perlu pengawalan ketat agar pelayanan publik benar-benar tepat sasaran dan bebas dari penyimpangan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup