Azhari Cage Bantu Repatriasi Jenazah Warga Bireuen dan Dua Anaknya dari Malaysia

Azhari Cage Bantu Repatriasi Jenazah Warga Bireuen dan Dua Anaknya dari Malaysia

Plat Merah – Senator DPD RI asal Aceh, Azhari Cage SIP, kembali membuktikan komitmennya dalam membantu masyarakat Aceh yang menghadapi kesulitan. Kali ini, ia memastikan pemulangan jenazah Juliati Ibrahim (50), warga Bireuen yang meninggal di Malaysia, serta dua anaknya yang masih kecil. Langkah ini memicu diskusi tentang peran tokoh politik dalam isu kemanusiaan dan tantangan repatriasi jenazah di era mobilitas global.

Kronologi Kejadian

Almarhumah Juliati Ibrahim, warga Dusun Lamkuta, Desa Raya Tambo, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, meninggal di Rumah Sakit Teungku Ampuan Rahimah, Klang Selangor, Malaysia, pada 5 Juli 2026, pukul 14.38 waktu setempat. Jenazah tiba di Medan pada 9 Juli 2026, pukul 14.55 WIB, melalui penerbangan MH864 dari Kuala Lumpur ke Bandara Kualanamu. Setelahnya, jenazah diangkut ke Matang Bireun menggunakan ambulans dengan biaya total 27 juta rupiah, seluruhnya ditanggung Azhari Cage.

Rincian Biaya dan Logistik

Komponen BiayaRincianJumlah (Rp)
Penerbangan Malaysia-MedanTiket pesawat khusus jenazah25.000.000
Transportasi DaratAmbulans Medan-Matang Bireun2.000.000

Berdasarkan Data, Berapa Banyak Warga Aceh yang Terdampar di Malaysia?

Menurut data BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia), sekitar 180.000 warga Aceh bekerja di Malaysia, terutama di sektor rumah tangga dan konstruksi. Namun, sistem perlindungan kesehatan dan hukum mereka seringkali tidak memadai. Juliati Ibrahim, yang tinggal di Malaysia selama lebih dari 15 tahun, menjadi contoh kasus di mana keluarga di Aceh kesulitan mengatasi perawatan medis akibat biaya tinggi dan kurangnya jaringan dukungan.

Peran Azhari Cage: Dari Politik ke Kemanusiaan

Azhari Cage, yang pernah menjabat sebagai juru bicara KPA (Komite Permusyawaratan Aceh) Pusat, dikenal aktif dalam isu migrasi Acehnese. Dalam wawancara dengan pers, ia menyatakan, “Ini bukan pertama kalinya saya membantu. Tapi, setiap kasus seperti ini menggugah empati. Kami harus memastikan keluarga bisa berduka secara layak.”

Dampak Sosial dan Kebijakan

  • Memicu diskusi tentang perlunya dana khusus untuk repatriasi warga Aceh di perantauan.
  • Menjadi contoh peran tokoh politik dalam isu lokal yang bersifat kemanusiaan.
  • Meningkatkan kesadaran publik tentang tantangan buruh migran di Malaysia.

Perspektif Komunitas

Ketua Lembaga Perlindungan Warga Aceh di Malaysia, Tarmizi Hadi, mengatakan, “Kasus Juliati Ibrahim mencerminkan kebutuhan sistematis. Kami harus menekan pemerintah Malaysia dan pemerintah Aceh untuk menetapkan mekanisme cepat untuk repatriasi, terutama saat jenazah tidak memiliki dana pribadi.”

Langkah Azhari Cage tidak hanya mengedepankan empati, tetapi juga menunjukkan kelemahan sistem yang memaksa individu bertindak sebagai penyelamat. Namun, jika setiap kasus harus ditangani secara pribadi, maka solusi kolektif harus segera dicari. Pemerintah Aceh, Kementerian Tenaga Kerja, dan komunitas Aceh di Malaysia perlu bekerja sama untuk membangun jaring pengaman yang lebih kuat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup