Kontroversi Tijjani Reijnders: Gelandang Masa Depan Belanda yang Terlupakan di Piala Dunia 2026
Plat Merah – Piala Dunia 2026 menjadi saksi bisu kegagalan Timnas Belanda yang antiklimaks. Setelah tampil impresif di fase grup, Oranye tersingkir di babak 32 besar oleh Maroko melalui adu penalti. Namun, yang menjadi sorotan utama adalah keputusan pelatih Ronald Koeman yang tidak memainkan Tijjani Reijnders sama sekali dalam laga krusial tersebut. Keputusan ini menuai kritik tajam, termasuk dari legenda Belanda Rafael van der Vaart.
Tijjani Reijnders, gelandang serba bisa milik AC Milan, dianggap sebagai salah satu talenta terbaik Belanda saat ini. Namun, dalam pertandingan melawan Maroko, ia hanya duduk di bangku cadangan selama 120 menit. Koeman lebih memilih Frenkie de Jong sebagai starter di lini tengah, sebuah pilihan yang dianggap Van der Vaart sebagai kesalahan fatal. “Anda melewati grup yang sulit dengan cukup baik. Kemudian segalanya mulai berjalan lancar. Apa yang terjadi di kepala Anda sehingga Anda melakukan segalanya secara berbeda melawan Maroko? Saya benar-benar tidak mengerti,” ujar Van der Vaart kepada NOS.
Padahal, Tijjani Reijnders telah menunjukkan performa gemilang di level klub bersama AC Milan dan menjadi andalan di lini tengah Belanda selama kualifikasi. Ia memiliki kemampuan distribusi bola yang baik dan visi permainan yang tajam. Namun, Koeman memilih formasi 5-3-2 yang defensif, meninggalkan gaya khas Total Football yang selama ini menjadi identitas Belanda. Akibatnya, lini tengah Oranye kesulitan mengontrol permainan, dan Maroko mampu memaksakan adu penalti.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Belanda, yang sebelumnya lolos sebagai juara Grup F dengan catatan produktif. Namun, saat menghadapi Maroko, mereka kehilangan jati diri. Banyak pihak menilai bahwa absennya Tijjani Reijnders menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan. Ia adalah pemain yang bisa memberikan keseimbangan antara bertahan dan menyerang, sesuatu yang sangat dibutuhkan saat melawan tim tangguh seperti Maroko.
Kontroversi ini juga memicu pertanyaan tentang masa depan Reijnders di tim nasional. Apakah ia akan tetap menjadi bagian penting dari skuad Belanda, atau justru terpinggirkan? Dengan usianya yang masih 27 tahun, Reijnders masih memiliki banyak waktu untuk membuktikan diri. Namun, keputusan Koeman di Piala Dunia 2026 tentu meninggalkan luka mendalam bagi sang pemain.
Di sisi lain, kegagalan Belanda juga menjadi pelajaran berharga. Mereka harus kembali ke akar permainan Total Football yang selama ini menjadi kekuatan. Jika tidak, maka antiklimaks seperti ini akan terus terulang. Sementara itu, Tijjani Reijnders harus terus bekerja keras untuk merebut kembali tempatnya di tim utama. Publik Belanda tentu berharap ia akan menjadi bagian dari kebangkitan Oranye di masa depan.
Kesimpulannya, Piala Dunia 2026 menjadi catatan kelam bagi Belanda. Keputusan Koeman yang mengabaikan Tijjani Reijnders menjadi simbol dari kesalahan strategi yang merugikan. Semoga ke depannya, Belanda bisa belajar dari kesalahan ini dan kembali menjadi kekuatan yang disegani di kancah sepak bola dunia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










