Air Mata Neymar dan Kegagalan Ancelotti: Brasil Tersingkir di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Plat Merah – Kekalahan memalukan Brasil dari Norwegia dengan skor 2-1 di babak 16 besar Piala Dunia 2026 menjadi mimpi buruk yang tak terlupakan. Pelatih Carlo Ancelotti, yang ditunjuk untuk membawa kembali kejayaan Selecao, harus menerima kenyataan pahit: Brasil tersingkir lebih awal sejak 1990. Ancelotti, yang dikenal sebagai arsitek kemenangan di level klub, kini harus menanggung kritik tajam setelah keputusannya membawa Neymar ke turnamen justru berujung petaka. Ancelotti mengakui bahwa hasil ini sangat mengecewakan, namun ia bertekad memulai siklus baru bersama tim.
Pertandingan yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, pada Minggu (5/7/2026) malam itu menjadi saksi betapa dominasinya Erling Haaland. Dua gol penyerang Manchester City tersebut—satu sundulan pada menit ke-80 dan satu tembakan keras dari luar kotak penalti pada menit ke-90—menghancurkan harapan Brasil. Haaland kini sejajar dengan Lionel Messi dan Kylian Mbappe sebagai top skor sementara dengan tujuh gol. Sementara itu, Neymar yang masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-70 hanya mampu memperkecil kekalahan lewat penalti pada menit ke-90+10. Setelah peluit panjang berbunyi, Neymar jatuh tersungkur di lapangan, menangis histeris. Dalam wawancara dengan Globo, ia mengumumkan pensiun dari tim nasional: “Saya mencoba, saya mencoba. Sekarang sudah berakhir. Saya memulai di sini, dan saya berakhir di sini.”
Keputusan Ancelotti membawa Neymar ke Piala Dunia menuai kontroversi sejak awal. Neymar, yang baru pulih dari cedera, hanya tampil singkat di fase grup. Ancelotti tetap memainkannya sebagai false nine melawan Norwegia, namun ia gagal memberikan dampak signifikan. Ancelotti, yang sebelumnya sukses di Real Madrid, kini harus mempertanggungjawabkan pilihannya. Dalam konferensi pers, Ancelotti menyatakan, “Kami akan terus bekerja dan mencari ide-ide baru. Ini adalah pengalaman yang sangat mengecewakan, tetapi saya berterima kasih kepada para pemain yang telah bekerja keras. Kami tidak pantas kalah, tapi kami harus menerimanya.”
Kiper Norwegia, Orjan Nyland, menjadi pahlawan dengan penyelamatan gemilangnya, termasuk menepis penalti Bruno Guimaraes di babak pertama. Nyland, yang saat ini tanpa klub, mengaku pertandingan ini adalah yang terpenting dalam kariernya. Kemenangan ini membawa Norwegia ke perempat final untuk pertama kalinya dalam sejarah, di mana mereka akan menghadapi Inggris atau Meksiko.
Kekalahan ini meninggalkan luka mendalam bagi Brasil. Neymar mengakhiri karier internasionalnya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Brasil dengan 80 gol, mengungguli Pele. Namun, ia menjadi pemain Brasil kedua setelah Thiago Silva yang tampil di empat Piala Dunia tanpa pernah juara. Fans Brasil di stadion dan di tanah air tak kuasa menahan air mata. Endrick, striker muda berusia 19 tahun, juga terlihat pingsan di lapangan setelah pertandingan.
Kesimpulannya, kegagalan Brasil di Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran berharga. Ancelotti harus segera membangun kembali tim dengan wajah baru, tanpa bergantung pada sosok Neymar yang sudah pensiun. Masa depan Selecao kini berada di tangan generasi muda seperti Vinicius Junior dan Endrick, namun tantangan berat menanti di depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.





