Kontroversi Leandro Paredes: Upaya Konyol untuk Mengusir Harry Kane Gagal Total

Kontroversi Leandro Paredes: Upaya Konyol untuk Mengusir Harry Kane Gagal Total

Plat Merah – Atlanta, Georgia – Semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris tidak hanya menyajikan duel sengit di lapangan, tetapi juga insiden kontroversial yang melibatkan gelandang Argentina, Leandro Paredes. Pemain yang menjadi starter dalam formasi 4-4-2 arahan Lionel Scaloni itu mencoba memanfaatkan aturan baru FIFA untuk membuat kapten Inggris, Harry Kane, diusir wasit. Aksi tersebut sontak menuai kecaman dari para pengamat dan mantan pemain.

Insiden bermula saat Kane berbicara dengan wasit Ismail Elfath di babak pertama. Sesuai aturan, kapten tim berhak berdialog dengan pengadil lapangan. Namun, saat Kane menutup mulutnya dengan tangan, Leandro Paredes berlari mendekati wasit dan memprotes keras. Ia mengklaim bahwa Kane melanggar aturan baru yang melarang pemain menutup mulut saat berhadapan dengan lawan. Aturan tersebut memang diberlakukan FIFA setelah kasus homofobia di Liga Champions, di mana pelanggaran serupa berbuah kartu merah.

Mantan kiper Inggris, Joe Hart, yang menjadi komentator BBC, menyebut tindakan Paredes sebagai “konyol dan memalukan”. “Dia (Kane) hanya berbicara dengan wasit. Ini benar-benar upaya putus asa untuk mempengaruhi pertandingan,” ujar Hart. Senada dengan Hart, legenda Manchester United, Wayne Rooney, juga mengecam Leandro Paredes. “Ini konyol. Mereka pasti sudah merencanakan ini sebelum pertandingan: cari cara untuk membuat pemain kunci Inggris dikeluarkan,” kata Rooney.

Aturan baru yang dimaksud memang memungkinkan wasit memberikan kartu merah jika pemain menutup mulut saat berbicara dengan lawan. Namun, dalam kasus ini, Kane sedang berbicara dengan wasit, bukan dengan pemain Argentina. Presenter BBC Mark Chapman menjelaskan perbedaan tersebut, menegaskan bahwa tidak ada pelanggaran yang dilakukan Kane. Meski demikian, Leandro Paredes terus mendesak wasit, namun Elfath tidak menggubrisnya.

Pertandingan sendiri berlangsung alot dengan tensi tinggi. Argentina unggul lebih dulu melalui gol cepat, namun Inggris membalas lewat Anthony Gordon. Skor imbang bertahan hingga menit akhir, sebelum Lautaro Martinez memastikan kemenangan 2-1 untuk Argentina di masa injury time. Kekalahan ini membuat Inggris harus puas bertanding melawan Prancis untuk memperebutkan peringkat ketiga, sementara Argentina melaju ke final melawan Spanyol.

Aksi Leandro Paredes tidak hanya menuai kritik dari kubu Inggris. Mantan kiper Argentina, Sergio Goycochea, dalam wawancara dengan TyC Sports, mengakui bahwa tindakan tersebut tidak pantas. “Kami adalah juara bertahan, seharusnya kami bermain dengan martabat, bukan trik kotor,” ujarnya. Namun, pelatih Lionel Scaloni membela anak asuhnya, mengatakan bahwa tekanan dalam laga semifinal sangat besar dan setiap tim berusaha memanfaatkan celah aturan.

Insiden ini kembali memicu perdebatan tentang aturan menutup mulut yang dinilai kontroversial. Banyak pihak menilai aturan tersebut terlalu ambigu dan mudah disalahgunakan. Meski demikian, FIFA sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi terkait kejadian ini. Yang jelas, Leandro Paredes berhasil menjadi pusat perhatian, meski dengan cara yang negatif.

Pertandingan semifinal ini juga diwarnai oleh kekerasan fisik dan protes keras pemain Argentina terhadap setiap keputusan wasit. Giuliano Simeone, yang menjadi starter kejutan menggantikan Rodrigo De Paul, melakukan lima pelanggaran di babak pertama tanpa mendapatkan kartu kuning. Sementara itu, Enzo Fernandez lolos dari hukuman setelah melakukan tekel keras ke leher Elliot Anderson. Semua itu menambah daftar panjang kontroversi dalam laga yang berakhir dengan kemenangan Argentina tersebut.

Kesimpulannya, aksi Leandro Paredes yang mencoba memanfaatkan aturan baru untuk mengusir Harry Kane adalah contoh nyata dari sisi gelap sepak bola modern: upaya menghalalkan segala cara untuk menang. Meski gagal, insiden ini meninggalkan noda pada kemenangan Argentina dan memperkuat stereotip permainan curang yang kerap dialamatkan kepada tim asal Amerika Selatan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup