Kontroversi Paredes: Bintang Argentina Bela Tim, Tapi Tolak Minta Maaf
Plat Merah – Kekalahan Argentina dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 tidak hanya meninggalkan luka karena gagal mempertahankan gelar, tetapi juga memicu kontroversi besar akibat ulah beberapa pemain, terutama Leandro Paredes. Gelandang yang bermain di AS Roma itu menjadi sorotan setelah terlibat dalam keributan pasca-pertandingan yang melibatkan tendangan dan pukulan ke arah pemain Spanyol. Namun, dalam pernyataan pertamanya setelah insiden tersebut, Paredes menolak untuk meminta maaf.
Pertandingan yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, pada Minggu (20/7) berakhir dengan skor 1-0 untuk Spanyol berkat gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Argentina harus bermain dengan 10 orang setelah Enzo Fernandez mendapat kartu merah di akhir waktu normal. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah aksi Paredes yang terlihat memukul Eric García, mendorong Gavi, dan terlibat baku hantam dengan pemain Spanyol lainnya.
Dalam unggahan di Instagram, Paredes menulis, “Terima kasih, Argentina! Aku mencintaimu hari ini dan selamanya. Aku menulis dengan hati yang berat karena tidak bisa memberikan kebahagiaan yang layak bagi negara kita.” Ia menambahkan, “Tapi aku menulis dengan kepala tegak dan bangga karena kami memberikan segalanya dan mengibarkan bendera setinggi-tingginya!” Tidak ada sepatah kata pun permintaan maaf dari Paredes, yang justru merasa bangga dengan perjuangan tim.
Sementara itu, rekan setimnya, Enzo Fernandez, juga membela sikap tim. Dalam pernyataan di media sosial, ia menekankan bahwa tim telah mewakili negara dengan cara terbaik. “Seiring waktu, kamu menyadari ada hal yang lebih besar dari sekadar hasil. Kelompok ini telah mewakili tim dengan cara terbaik selama bertahun-tahun,” tulisnya. Fernandez tidak menyebut kartu merahnya sendiri, tetapi lebih fokus pada semangat juang tim.
Kontroversi tidak berhenti di situ. FIFA membuka penyelidikan terhadap kerusuhan pasca-final, dan kartu merah yang sempat dilaporkan untuk Paredes ternyata dihapus dari catatan resmi. BBC Sport mengonfirmasi bahwa tidak ada tindakan disipliner dari FIFA terhadap Paredes. Namun, sikap arogan Paredes menuai kritik, terutama karena ia terlibat langsung dalam kekerasan.
Di sisi lain, Spanyol merayakan kemenangan dengan pesta di Madrid. Bintang muda Lamine Yamal bahkan mengolok-olok Paredes dengan membawa papan bertuliskan “Velada del Año: Paredes vs Gavi”—merujuk pada acara tinju selebritas yang populer di Spanyol. Ini menunjukkan bahwa Spanyol tidak melupakan insiden tersebut, meskipun mereka menahan diri saat keributan terjadi.
Tak hanya itu, saudara perempuan Paredes, Barbara, justru memperkeruh suasana dengan mengangkat isu Falklands (Malvinas). Dalam wawancara, ia menyatakan, “Kami mungkin tidak memiliki bintang keempat, tapi kami memiliki Falklands untuk diri kami sendiri.” Pernyataan ini memicu reaksi keras dari Inggris, yang menganggap klaim tersebut tidak berdasar. Pemerintah Inggris melalui juru bicaranya menegaskan, “Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tapi Kepulauan Falklands pasti milik kami.”
Insiden Falklands sendiri sudah menjadi sorotan saat Argentina mengalahkan Inggris di semifinal. Para pemain Argentina mengibarkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas Son Argentinas” yang memicu kemarahan Inggris. FIFA diminta untuk menyelidiki, namun tidak ada sanksi yang dijatuhkan.
Kesimpulannya, kegagalan Argentina di final Piala Dunia 2026 diwarnai oleh perilaku kontroversial sejumlah pemain, terutama Leandro Paredes. Alih-alih menyesali kekerasan, Paredes justru bangga dengan perjuangan tim dan menolak meminta maaf. Sikap ini, ditambah dengan pernyataan saudaranya yang memicu sentimen politik, membuat Argentina menuai kecaman internasional. FIFA kini masih menyelidiki insiden tersebut, dan masa depan beberapa pemain di Inggris—tempat mereka bermain di klub—terancam jika visa kerja mereka ditinjau ulang. Namun, yang pasti, Paredes telah meninggalkan noda dalam sejarah sepak bola Argentina.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











