IMPA Akasia FH UNEJ Serukan Pelestarian Gumuk Jember
Plat Merah – Perayaan Dies Natalis ke-43 Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (IMPA) Akasia Fakultas Hukum Universitas Jember (UNEJ) berlangsung tidak hanya sebagai momen akademik, tetapi juga sebagai ajang penguatan komitmen terhadap lingkungan. Dalam agenda seminar bertema “Menjaga Gumuk, Menjaga Jember”, organisasi ini menyoroti ancaman serius terhadap ekosistem gumuk, bentang alam ikonik Jember yang kini menghadapi tekanan alih fungsi lahan, pembangunan infrastruktur, dan perubahan iklim.
Bentang Alam yang Terancam: Profil Geologis dan Fungsi Ekologis
| Aspek | Penjelasan |
|---|---|
| Lokasi Utama | Kecamatan Ambulan, Arjasa, dan Kaliwates |
| Formasi Geologis | Kumpulan pasir vulkanik hasil erosi Gunung Iyang (abad ke-12) yang menumpuk selama berabad-abad |
| Fungsi Ekologis | Kawasan resapan air, penyangga ekosistem, dan habitat flora fauna endemik |
| Ancaman Utama | Alih fungsi lahan untuk pertanian intensif, perumahan, dan industri |
Dosen Hukum Tata Negara UNEJ, Riswandha Imawan, SH., MH., menegaskan bahwa gumuk berperan kritis dalam menjaga keseimbangan hidrologi regional. “Tanah pasir gumuk berperan sebagai saringan alami air hujan, mencegah banjir, dan menjaga ketersediaan air tanah di musim kemarau,” jelasnya saat diskusi. Penulis lingkungan R.Z. Hakim menambahkan, perubahan iklim memperparah kondisi ini dengan intensitas hujan yang tidak menentu dan peningkatan suhu yang mengurangi kelembapan tanah.
Peran Generasi Muda dalam Pemulihan Ekosistem
Antusiasme peserta seminar terlihat dari interaksi dinamis selama diskusi. Sasmitha atau Hachi, selaku panitia, mengungkapkan strategi IMPA Akasia untuk memobilisasi partisipasi masyarakat. “Kami tidak hanya mengedukasi, tetapi juga menyiapkan rencana aksi konkret, seperti penanaman pohon peneduh di area gumuk dan pelatihan manajemen limbah organik,” ujarnya.
Langkah Strategis yang Diproposikan
- Penetapan status perlindungan hukum kawasan gumuk melalui Perda
- Partisipasi aktif masyarakat dalam pemantauan kerusakan lingkungan
- Pengembangan ekowisata berbasis edukasi lingkungan
- Kolaborasi lintas sektoral pemerintah, akademisi, dan komunitas
Kronologi Perayaan dan Fokus Diskusi
| Tanggal | Kegiatan |
|---|---|
| 15 Juni 2026 | Sosialisasi tema dan pendaftaran peserta |
| 17-20 Juni 2026 | Presentasi studi kasus kerusakan gumuk di 3 kecamatan |
| 22 Juni 2026 | Workshop pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos |
| 25 Juni 2026 | Penutupan seminar dengan penandatanganan MoU perlindungan lingkungan |
Dampak Jangka Panjang dan Tantangan
Pelestarian gumuk tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dengan perekonomian lokal. Menurut data Dinas Pertanian Jember, 15% lahan pertanian organik bergantung pada resapan air gumuk. Ancaman hilangnya ekosistem ini bisa mengurangi produksi cabai merah, salah satu komoditas unggulan daerah. Pemerintah daerah diminta mempercepat pembuatan zonasi kawasan hutan lindung yang mencakup area gumuk.
Analisis Kebijakan yang Diperlukan
- Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang memprioritaskan kawasan resapan
- Pembentukan dana abadi lingkungan dari APBD
- Pelatihan petani untuk sistem pertanian ramah lingkungan
- Penegakan sanksi hukum bagi pelaku kerusakan ekosistem
Kegiatan IMPA Akasia ini menjadi momentum penting bagi refleksi kolektif. Dengan memadukan pendidikan hukum dan kesadaran lingkungan, generasi muda Jember menunjukkan bahwa pelestarian alam adalah investasi masa depan. Gumuk yang pernah menjadi saksi bisu sejarah vulkanik kini menggema dengan tuntutan perlindungan dari serangan modernitas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












