Revitalisasi Benteng Kuto Besak Dimulai: Herman Deru Targetkan Destinasi Wisata Sejarah Unggulan Palembang
Langkah Strategis Melestarikan Warisan Budaya
Plat Merah – Palembang, Sumselupdate.com – Proses revitalisasi Benteng Kuto Besak (BKB) yang dimulai pada 28 Juni 2026 menandai langkah penting dalam melestarikan sejarah dan mengembangkan potensi pariwisata Sumatera Selatan. Gubernur Herman Deru secara resmi menyambut program yang dipimpin Kodam IISriwijaya, menyebut proyek ini sebagai upaya strategis mengangkat ikon historis Palembang menjadi destinasi unggulan. “Benteng Kuto Besak adalah simbol perjuangan masyarakat Sumsel yang harus dilestarikan,” ujarnya saat acara topping off di lokasi.
Sejarah dan Makna Simbolis
Dibangun pada 1780 sebagai karya putra daerah di era Kesultanan Palembang Darussalam, BKB menjadi salah satu peninggalan sejarah terpenting di Indonesia. Berbeda dari benteng-benteng penjajah di wilayah lain, kawasan ini merefleksikan semangat kemandirian masyarakat Palembang. Menurut sejarawan Dr. Iwan Prasetyo, benteng ini pernah menjadi pusat pertahanan melawan kolonial Belanda pada 1802 dan menjadi saksi bisu kisah perjuangan bangsa.
Detil Proses Revitalisasi
Proyek revitalisasi mencakup penataan kawasan seluas 12 hektar, dengan fokus pada tiga aspek utama:
- Infrastruktur Umum: Pemugaran dinding benteng, pelebaran jalan, dan pemasangan sistem drainase modern.
- Fasilitas Wisata: Pembangunan Museum Mini BKB, area restoran tradisional, dan ruang pamer artefak sejarah.
- Techno-heritage: Penginstalan proyektor 3D untuk menampilkan rekreasi sejarah dan sistem AR (Augmented Reality) interaktif.
Pangdam IISriwijaya Mayjen Ujang Darwis mengungkapkan total anggaran proyek mencapai Rp 75 miliar, dengan fase pertama selesai akhir 2026. “Kami juga membuka Tourism Information Center yang akan menjadi pusat data wisata dan kantor koordinasi pengelolaan,” katanya.
Potensi Ekonomi dan Dampak Sosial
Analisis dari Pusat Pengembangan Ekonomi Kreatif Sumsel menunjukkan, destinasi sejarah seperti BKB berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan hingga 300% setelah revitalisasi. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, Palembang saat ini hanya memperoleh 0,7% dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumsel, angka yang diharapkan akan meningkat signifikan.
| Kategori | Sebelum Revitalisasi | Setelah Revitalisasi (Prediksi) |
|---|---|---|
| Kunjungan Wisman | 12.000 orang/th | 36.000 orang/th |
| Eksportasi Budaya | Minim | Produk kerajinan sejarah dipasarkan online |
| Kolaborasi Komunitas | Hanya komunitas lokal | 15 komunitas seni akan berpartisipasi |
Kronologi Perkembangan
| Tahun | Era | Kegiatan |
|---|---|---|
| 1780-1802 | Kesultanan Palembang | Pembangunan dan masa perjuangan |
| 1858 | Kolonial Belanda | Runah terbengkalai |
| 2009 | Pemerintahan Provinsi | Upaya pemugaran pertama |
| 2026 | Kodam IISriwijaya | Revitalisasi menyeluruh |
Perspektif Budaya dan Generasi Muda
Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Rudi Hartono, menilai proyek ini juga memiliki nilai pendidikan tinggi. “Kami akan mengintegrasikan BKB sebagai lokasi studi sejarah siswa SMA, dengan program magang bagi pelajar SMK jurusan pariwisata,” ujarnya. Sementara itu, komunitas digital “Palembang Heritage Nusantara” berencana membuat konten VR eksplorasi benteng yang bisa diakses secara online.
Tantangan dan Harapan
Salah satu tantangan utama adalah mempertahankan keseimbangan antara nilai sejarah dan modernisasi. “Kami wajib memastikan setiap penataan tidak menghilangkan elemen orisinal benteng,” tegas Arsitek Senior Departemen Purbakala Sumsel, Teguh Pramono. Herman Deru optimis, dengan dukungan 800-an pelaku wisata dan 300 UMKM sekitar kawasan, BKB akan menjadi “jantung wisata sejarah” yang menggerakkan perekonomian.
Kawasan yang kini dikelilingi oleh kawasan komersial seperti Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan KH Ahmad Dahlan ini juga akan menjadi lokasi peluncuran program “Nusantara Heritage Trail”, sebuah rute wisata sejarah yang menghubungkan 12 destinasi bersejarah di Sumsel. Revitalisasi BKB bukan sekadar pelestarian fisik, tetapi juga upaya menghidupkan semangat kebangsaan yang tertanam dalam setiap batu bata tua benteng itu.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












