Badai Kemarahan Publik: Hong Myung-bo Dihujat dan Diusir dari Bisnis Lokal Usai Gagal di Piala Dunia 2026

Badai Kemarahan Publik: Hong Myung-bo Dihujat dan Diusir dari Bisnis Lokal Usai Gagal di Piala Dunia 2026

Plat Merah – Kegagalan Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026 memicu gelombang kemarahan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pelatih Hong Myung-bo menjadi sasaran utama amarah suporter setelah tim tersingkir di fase grup. Tak hanya di bandara, kemarahan itu kini merambah ke dunia usaha lokal, di mana sejumlah pemilik bisnis memasang papan larangan masuk bagi Hong Myung-bo.

Kepulangan skuad Taeguk Warriors ke Bandara Internasional Incheon pada Selasa dini hari berubah menjadi mimpi buruk. Ratusan suporter yang marah telah menunggu sejak pukul 04.00 pagi, meneriakkan yel-yel dan memukul drum sambil mengusung spanduk bertuliskan “Sepak Bola Korea Telah Mati”. Hong Myung-bo dan sembilan pemain harus dilindungi aparat kepolisian saat berjalan melewati terminal.

“Saya mempertanyakan apakah pengunduran dirinya tulus, mengingat sikapnya saat mengumumkannya. Dia menghancurkan festival yang hanya datang sekali setiap empat tahun. Saya datang ke sini untuk melihat orang yang bertanggung jawab atas hal itu,” ujar suporter Kim Gi-mo kepada Agence France-Presse.

Keputusan kontroversial Hong Myung-bo yang mencadangkan kapten Son Heung-min pada laga penentuan melawan Afrika Selatan menjadi pemicu utama amarah. Tanpa sang bintang, Korea Selatan kalah 0-1 dan gagal lolos ke babak 32 besar setelah hanya mengumpulkan tiga poin. Kekalahan tersebut mengulang catatan buruk Piala Dunia 2014 di Brasil, di mana Hong Myung-bo juga menjadi pelatih saat Korea Selatan tersingkir di fase grup.

“Saya sangat terkejut dia mencadangkan Son melawan Afrika Selatan. Saya pikir itu adalah awal dari semua kesalahan di Piala Dunia ini,” kata mahasiswa Song Min-kyung kepada AFP.

Tak hanya di dunia maya, kemarahan terhadap Hong Myung-bo kini menyebar ke dunia nyata. Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan papan pengumuman di beberapa toko dan restoran lokal yang secara terang-terangan melarang Hong Myung-bo masuk. Tindakan ini menuai perdebatan: sebagian menganggapnya berlebihan, namun yang lain menilai itu cerminan frustrasi yang sudah lama terpendam terhadap kepemimpinan Asosiasi Sepak Bola Korea.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung pun turun tangan. Dalam pernyataan resmi, ia mengecam keras keputusan Hong Myung-bo dan mempertanyakan proses penunjukannya. “Sekali lagi, terbukti bahwa keputusan personalia menentukan segalanya. Jika loyalitas dan faksionalisme lebih dihargai daripada kompetensi dan orang yang tidak mampu diangkat sebagai pemimpin, hasilnya bisa ditebak seperti api,” tegas Lee. Ia juga memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap program tim nasional.

Hong Myung-bo, 57 tahun, mengumumkan pengunduran dirinya pada Minggu (28/6) di Meksiko, sebelum tim kembali ke Korea. “Kami tidak memberikan hasil yang diharapkan para penggemar,” katanya dalam konferensi pers. Namun, pengunduran dirinya tidak serta merta meredakan kemarahan publik. Banyak yang menilai sikapnya saat mengumumkan mundur tidak menunjukkan penyesalan yang tulus.

Kekalahan beruntun dari Afrika Selatan (0-1) dan Meksiko membuat Korea Selatan finis di peringkat ke-10 dari 12 tim peringkat ketiga terbaik. Harapan lolos ke babak selanjutnya pupus setelah Republik Demokratik Kongo mengalahkan Uzbekistan 3-1 pada laga terakhir Grup K.

Bagi Korea Selatan, kegagalan ini menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah. Negara yang dikenal sebagai kekuatan sepak bola Asia ini harus menerima kenyataan pahit: Piala Dunia 2026 berakhir lebih awal, dan pelatih Hong Myung-bo menjadi kambing hitam atas kehancuran tersebut.

Kemarahan publik terhadap Hong Myung-bo tidak hanya berhenti pada protes di bandara. Para pemilik usaha kecil di seluruh negeri mulai memasang tanda larangan masuk, menunjukkan betapa dalamnya kekecewaan masyarakat. Beberapa pengamat menilai reaksi ini sebagai bentuk protes terhadap sistem sepak bola Korea yang dinilai kronis, bukan semata-mata karena hasil satu turnamen.

Dengan pengunduran diri Hong Myung-bo, Asosiasi Sepak Bola Korea kini menghadapi tugas berat untuk memulihkan kepercayaan publik. Evaluasi menyeluruh yang diperintahkan presiden diharapkan dapat membenahi sistem pembinaan dan seleksi pelatih ke depan. Namun, luka yang ditinggalkan oleh kegagalan ini diperkirakan akan membekas lama di hati para penggemar sepak bola Korea.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup