CIMSA UNEJ Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Petani Jember lewat Program ANALGESIC
Plat Merah – Sektor pertanian di Indonesia memegang peran krusial dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Namun, di balik kontribusi mereka, sebagian besar petani menghadapi risiko kesehatan yang sering diabaikan akibat paparan bahan kimia, pekerjaan fisik berat, dan kurangnya akses ke layanan kesehatan. Untuk menangani isu ini, SCORP CIMSA Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK UNEJ) menginisiasi program ANALGESIC (Raising Health Awareness in Agricultural Society) di Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, Jember. Program ini bertujuan mengedukasi masyarakat pertanian tentang pentingnya praktik sehat dan berkelanjutan.
Risiko Kesehatan yang Diabaikan
Dialog program Jaga Malam di Pro 2 RRI Jember, 26 Juni 2026, mengungkap data mengejutkan: 72% petani di Pulau Jawa mengalami gangguan pernapasan atau dermatitis akibat kontak langsung dengan pestisida tanpa alat pelindung diri (APD). Kepala Bidang SCORP CIMSA FK UNEJ, Rakha Nazwar Alam, menjelaskan bahwa paparan bahan kimia terjadi melalui tiga jalur utama: inhalasi (terhirup), absorpsi (melalui kulit), dan ingesti (tertelan). Tanpa masker atau sarung tangan, petani berisiko mengalami:
- Penyakit pernapasan akibat debu pertanian dan uap pestisida
- Dermatitis kontak atau gangguan kulit
- Pencemaran lingkuran dari sisa bahan kimia
- Penyakit otot dan sendi akibat postur buruk saat bercocok tanam
Tabel Perbandingan Risiko dan Pencegahan
| Risiko Kesehatan | Penyebab | Cara Pencegahan |
|---|---|---|
| Gangguan pernapasan | Pestisida, debu tanah | Menggunakan masker N95, ventilasi lapangan |
| Dermatitis kontak | Kontak langsung dengan bahan kimia | Sarung tangan tebal, pakaian tertutup |
| Pencemaran lingkungan | Pupuk kimia berlebih | Adopsi pupuk organik, prinsip 3R |
Program Praktis untuk Perubahan Nyata
ANALGESIC tidak sekadar teori. Mahasiswa kedokteran UNEJ bersama komunitas NANDURO mengadakan workshop pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga. Program ini mengusung konsep One Health, yang mengaitkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Rakha menegaskan bahwa solusi kesehatan harus holistik: “Petani sehat = pertanian produktif = ketahanan pangan berkelanjutan.”
Manfaat Pupuk Organik
- Mengurangi paparan bahan kimia beracun
- Memperbaiki struktur tanah dan kandungan nutrisi
- Meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah
- Mengurangi biaya produksi petani hingga 30%
Dampak dan Implikasi Jangka Panjang
Program ini diharapkan menciptakan generasi petani yang sehat dan sadar lingkungan. Dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, ANALGESIC juga berkontribusi pada:
- Pencemaran air tanah dan sungai
- Penyakit jangka panjang akibat residu pestisida
- Penurunan keanekaragaman hayati lahan pertanian
Kronologi Kegiatan Program ANALGESIC
- April 2026: Survei kesehatan dan risiko pertanian di Desa Gumuksari
- Mei 2026: Workshop pembuatan pupuk organik dan APD sederhana
- Juni 2026: Dialog publik di Pro 2 RRI Jember untuk edukasi luas
- Juli 2026: Evaluasi dampak dan pengembangan modul pendidikan
Para mahasiswa kedokteran, lewat peran mereka sebagai health advocate, juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi nirlaba, dan komunitas lokal. Rakha menuturkan, “Kami ingin menjadi agent of change yang mendorong perubahan sistemik, bukan sekadar intervensi sementara.”
Program ANALGESIC saat ini berfokus pada Jember, tetapi SCORP CIMSA berencana memperluasnya ke 5 provinsi lain di Pulau Jawa dan Bali dalam 2 tahun ke depan. Tujuan jangka panjangnya adalah mengurangi 40% penyakit akibat paparan pertanian dan meningkatkan penggunaan pupuk organik hingga 60% di wilayah sasaran.
Dengan pendekatan edukatif yang holistik, ANALGESIC memberi harapan bahwa pertanian Indonesia bisa bertransformasi menjadi sektor yang ramah petani dan ramah lingkungan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












